Sajak Tukang Gorengan

foto: dream.co.id

Sore lembab tukang gorengan belum lagi lewat
paras wajahnya, sayu matanya entah kemana.
Jalanan tergenang hujan tadi malam
kepul asap pisang dan ubi absen jam segini.

Pulang kampus lapar teriak dari balik jaket
kutengak-tengok sembarang pojok pangkal jalan.
Gerobak tak nampak, tak terlihat hadir: teng-tengnya.
Wahai gadis di manakah engkau berada?

Malam adalah penunggu rahasia
lirih keroncong terdengar dari perutku.
Sepiring mie instan lumayan menumpas nadanya
hanya kalbu lantang mencari: dia tak kunjung datang.

Lelah aku tertidur bermimpi pujaan hati bersayap asap
si gadis tukang gorengan yang biasa lewat depan rumah.
Mengapa belum kembali, mengapa belum kembali
apakah luluh semuanya, atau kau berpindah hati?
(seribu tanya bersaut-sautan)

Tiba pagi membuka cahaya hingga ke pelupuk mata
lalu sebuah kabar kudengar, ya kudengar dari balik laci.
Gadis penjual gorengan pulang kampung nikah di sana
ada juragan tanah melamarnya tiga hari lalu.
Sedianya pesta kan berlangsung esok hari
“Maafkan aku,” kata dia di ujung surat…

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar