Kuntum-kuntum Bening





: Kepadamu yang setia memandangi jubah kelabu tempat sembunyiku…


Telah lama kuperhatikan dirimu yang senantiasa menanti hadirku. Pijar bola matamu saat melihat jubahku dari kejauhan adalah isyarat bagiku untuk segera menemuimu. Sekiranya kita mampu bertemu, tentu saja telah kubisikkan banyak kisah padamu. Namun kali ini biarkan sahabat sejatiku yang bercerita, berbisik pelan-pelan sambil mempermainkan anak-anak rambutmu. Ia banyak tahu tentangku, pun aku telah berbagi padanya.

***

Mulaku dalam rupa barisan kristal dari putih buih samudra yang menapaki tangga kapas-kapas udara biru. Meluluh bersama gemuruh, menjadi selendang bening yang menyapa sejuk gunung. Sebagian menghening telaga cermin pendar cakra keemasan, sebagian berkelompok bernyanyi dengan bebatuan menggulung selaksa oksigen menggapai kehidupan sejumlah tebaran akar. Akupun tak jemu bercengkrama dengan setiap lapis kedalaman lalu meruah ke celah-celah litosfer. Seluruhnya aku menjelma menjadi setiap bentuk yang kusinggahi, kujelajahi, lalu menyatu pada lingkar rantai nitrogen memeluk setiap nafas mahluk yang ada.

Kemudian pada tanah-tanah yang rekah serupa kelopak mawar kurebahkan diriku. Menyelusup, mencari sela di mana partikel-pertikelku bisa menyatu dan merekatkan kembali pelukan bebutir coklat yang berserak, lalu menguarkan aroma rindu yang mendamaikan hati. Aroma yang menjadi penanda orkestra para katak tak lama lagi dimulai.

Sastra dan Saya




Di sebuah bar dengan papan nama seronok, menjerit-jerit silau lampunya. Memanggil-manggil mereka yang ingin melewati malam dengan sloki cinta on the rock. Memagut bibir gelas bergaram Tequila, menikmati Kahlua dalam irama disko latin yang menghentak lantai dansa. Lantai yang dikerumuni para pencari riuh, pendulang sensasi goyang musikal, berwarna-warni kilau metalik pakaiannya.

Saya sendirian berteman gurih Nachos dan Chivas bercampur cola dingin. Meski dinginnya tak membekukan tatapan saya ke arah perempuan bercelana jeans lebih rendah dari pinggulnya, membuat segaris merah celana dalamnya mengintip tanpa malu-malu. Dia bersebelahan dengan saya, sama-sama merokok, sama-sama sendirian. Dalam hitungan kesepuluh di benak, saya memperkenalkan diri. Kesendirian saya sirna sekejap. Nama perempuan itu, Sastra.

Mawar Merah Putih




Mawar merah dan putih. Berjatuhan kelopaknya membawa embun air mata. Satu-satu bulirnya terhisap tanah dan rerumputan. Beberapa hinggap di atas secarik surat yang tergenggam, lalu merah dan putihnya padam.


Ini malam minggu. Aku tak tau siapa yang musti kutunggu. Jarum jam bertopang dagu. Waktu jadi bisu, gagu. Aku telah merdeka dari rindu yang membelenggu, bebas dari kangen yang kerap mengganggu. Namun setelah berminggu-minggu, aku jadi ragu. Apakah kebebasan ini adalah kebebasan yang aku inginkan? Apakah kesendirian ini membahagiakan, atau malah menjerumuskanku pada kesunyian? Tidak ada angan-angan, tidak ada merdu nyanyian. Semuanya terasa begitu perlahan, mematikan. Hanya kesepian yang berjalan, di antara gumpalan awan-awan pikiran. Lantas kekosongan mengisi rongga perasaan.

Surat-surat yang kau berikan, sudah lama aku bakar. Sebelum kenangan akan dirimu akan menjalar. Dan gambaran wajahmu menebar, bagai air yang masuk pada akar. Lalu pikiranku dipenuhi jalinan belukar membuat  dadaku berdebar. Tanganku gemetar, dan kemana aku akan bersandar? Sekarang, semuanya begitu datar, datar dan datar. Matamu yang penuh binar, bibirmu yang merah mekar, dulu aku melihatnya setiap saat bulan cerah berpendar.  Suaramu yang indah selalu kudengar, begitu indahnya seolah dunia ini berhenti berputar. Suara yang kini tak pernah kudengar, meski kubuka telinga ini lebar-lebar.

Paman Hujan





Aku adalah penangkap cahaya
Ibuku perempuan Jawa, Ayahku rembulan.
Sebulan sekali Ayah datang pada Ibu
sebab Ayah sibuk mengitari bumi, pekerjaan tetapnya.

Saat mereka berduaan di kamar, aku tak boleh mengganggunya
“Sedang datang bulan,” bisik Ibu menghiburku.
“Bermain-mainlah kamu dengan serangga malam.”
Sebagai penangkap cahaya tentu banyak sinar kugenggam,
sebagian serangga itu kuberi terang; mereka menjelma menjadi kunang-kunang.

Kata Mereka Ibuku di Surga


nanti kalau mati, apa yang akan diingat manusia lain tentang aku? kebaikanku? keburukanku? atau.. gunungan sampah tempat bertemu tuhan dan aku?
—–
ibu, kata mereka kamu di surga. betul ibu? kalau iya aku ingin menyusul kesana. didongengkan kamu tentang indahnya istana dunia. dongeng saja ibu. karena pada nyata, dunia adalah neraka tempat aku mempertaruhkan segala. segala. bahkan hidup, nafas dan nyawa. ibu, kata mereka kamu di surga. kata mereka di sana ada taman bermain. ada bunga-bunga yang menyapa. dengan segala tawa. betul ibu? kalau iya aku ingin menyusul kesana. aku ingin melihatmu, menyentuhmu, membelaimu. karena pada nyata, aku sungguh bukan siapa-siapa. kecuali  beling-beling dan seonggok botol plastik, menjadi temanku. tempatku bercerita.

Malam Pertemuan



(Di keheningan malam, sosok laki-laki itu datang. Angin mendesir,  menebar aroma kembang.)
.
   “Andi….apakah itu kamu, Andi…?”
   “Selamat malam Nisa. Aku datang Nisa. Aku datang ingin melihatmu.”
   “Oh Andi, aku gemetar melihatmu. Tapi aku senang kau datang juga akhirnya. Aku pikir kau lupa padaku.”
   “Aku rindu padamu, Nisa. Tiga bulan lebih tak dapat melihatmu. Aku tak tahu caranya. Baru ini, bisa menjengukmu.”
   “Iya, aku mengerti, akupun kangen padamu. Walau ternyata tidak semudah bayangan semula, kita sudah lain dimensi bukan? Bagaimana kabarmu, Andi?”
  

Laron-Laron Cinta



Minggu subuh Mila berlari, olahraga pagi. Menghirup udara bersih, menjenguk suhu yang turun satu derajat. Jam masih pukul lima. Kaus ketat merah jambu dan bicycle pants hitam, sesekali menguak kontur badannya. Wewangian Adidas membantu semangat Mila. Aroma maskulin memang favoritnya. Aktif. Sportif. Menebar aura positif.

Sebelumnya, seperti biasa Mila melakukan pemanasan: membuat gerakan berputar pada leher, lengan dan pinggang. Mengendurkan otot-otot sendi. Mengusir kantuk yang melekat di pelupuk matanya. Membuang penat yang tersimpan dalam setiap sel-sel tubuhnya.

Sepatu jogging putih dengan tiga strip merah muda, selaras dengan kaus ketatnya. Yang nampak tak mampu menyembunyikan pusarnya.  Sepertinya berat badan Mila naik satu kilogram. Dan itu cukup membuat Mila dengan mudah mengenyah rasa malas bergerak dipagi ini. Lebih baik lari pagi, daripada mengurangi makan. Dan ini akhir minggu, harusnya bebas dari diet. Sekali-sekali memanjakan diri dengan kuliner, begitu pikir Mila.