Ini Negriku! Mana Negrimu?



Cendrawasih melayang bak sutra selendang melambai, menyapa nyiur menyapa pantai merah pastel. Menjenguk gunung-gunung emas berdampingan sekawan tertancap di tanah, tempat lautan terumbu pesta warna karang menggapai langit biru. Terpantul di riak gelombang lagu nelayan. Kebyar-kebyar corak layarnya menepuk pipi ikan-ikan berloncatan, menunggu jala menunggu salam dari ganggang. Dan lambai mahkota cacing kipas serta kilau pulau-pulau, berserak di sepanjang lintas pelangi katulistiwa.

(tapi bukan kami punya, seru anak-anak berlarian menyeret mainan dari buah jeruk bali)

Gadis Manis Gulali


Ia suka sekali membeli gulali. Makanan manis merah warna, terbuat dari air gula kental. Mengilat, merangsang mata, aromanya meluluh indra pengecap. Hampir saban hari, gadis itu menunggu kedatangan seseorang: pedagang gulali langganan. Yang mana saban siang lewat di jalan kecil depan rumah. Dan acap kali si pedagang lewat, ia segera menghampirinya. Lalu memesan gulali dengan bentuk yang sama yaitu bentuk hati. Entah kenapa tak ingin beda rupa, seperti selera anak-anak penggemar penganan gula kental lainnya.

Sebagian anak-anak lelaki kerap memesan bentuk mobil atau naga-nagaan, ada pula anak-anak gadis lain ingin wujud bunga atau kupu-kupu. Gadis kecil itu tak jua sekalipun memesan lain rupa. Namun Abang pedagang tak hendak bertanya tentang masalah bentuk. Ia hanya melayani, sesuai permintaan pembeli. Membentuk makanan manis itu dengan lincah tangannya. Seperti gerakan seni pematung yang handal, selekasnya membentuk gulali selagi panas.

Tuhan Sedang Bermain Kamera


Hujan mengandung harapan, juga impian
pada garis-garisnya langit seperti menangis, terisak-isak
memecah kesunyian, sambil menebar kilat menyala-nyala.
Yang gelap menjadi terang, yang malam terlihat siang.
.
“Tuhan sedang bermain kamera,” kata seorang pengamen
“Dia memotret kita. Gambarnya akan diserahkan kepada malaikat,”
“Biar malaikat-malaikat tahu, kepada siapa mereka harus memberi hadiah!”
pengamen  itu tersenyum dalam hati, berharap sebentar lagi laparnya hilang.
Baru saja, koin-koin recehnya terjatuh masuk hitam selokan
tak ada tukaran yang bisa ia berikan, kecuali mengharap pemberian
dari doa yang ia lantunkan.

Aku Mendengar Suara Domba yang Membisu


Barangkali kuntum-kuntum putih tak meluruh jendela kamarmu,
meski ladang gandum tetap bermain angin. Hembusnya berlarian
dari bukit-bukit bernafas musik ribuan tahun.

Musik rindu yang mengalahkan kepak sayap burung,
terbang dari danau ke pucuk cemara. Di sana ia bergema memanjang
serupa gaung lonceng berpindah dari misbah Gereja
mengusap-usap telingamu. Juga tubuhmu. Juga hatimu.

Suaranya membangunkan domba-domba yang membisu
meniup kelok sungai yang kali ini tanpa biru beku,
“Kita tak perlu berkemas dengan sepatu berpisau
untuk berdansa di pinggir danau,” bisik angsa-angsa kepadaku
agar membangunkan dirimu.

Maria Namanya, Pelacur Biasa



Maria namanya, pelacur biasa
gincunya memekik bau mawar
berjalan ke lorong jalan yang lenggang.
.
Sebuah café di sudut kota New Orleans
jendelanya suram tertutup bayangan awan hitam
yang berkeliling menghuni malam.

[Haiku] Biru Laut Nelayan



1#
selalu pagi
membawa lambai helai
sayap camar
2#
laut biru
kebyar layar nelayan
menambat peluh
3#

Sajak Tukang Gorengan


Sore lembab tukang gorengan belum lagi lewat
paras wajahnya, sayu matanya entah kemana.
Jalan tergenang terbasuh hujan tadi malam
kepul asap pisang dan ubi absen jam segini.

Pulang kampus lapar teriak dari balik jaket
kutengak-tengok sembarang pojok pangkal jalan.
Gerobak tak nampak ada, tak terlihat hadir: tengteng-nya,
wahai gadis di manakah engkau berada?