Dinda



Saat SMP aku punya teman sebangku yang lucu dan rupawan. Namanya Dinda. Anaknya cerdas luar biasa, hingga disayang para guru dan dikagumi teman-temannya termasuk aku. Kami bersahabat, atau dapat dikatakan melebihi sahabat. Semakin hari semakin erat hubungan kami hingga terbersit rasa saling cemburu, rasa saling kangen dan sedikit perasaan ingin memiliki.

Suatu hari aku menyubit pipi Dinda di kelas saat pelajaran sejarah. Sebab ia membacakan sajakku keras-keras. Seisi ruangan tertawa karenanya. Saking malunya kucubit ia hingga merah merona pipinya. “Aaauuuwwww….” jeritan Dinda terdengar Ibu Guru, lalu Ibu Guru segera menghampiriku dan menyubit pinggangku lebih kuat lagi.

Kini Dinda yang tertawa, sekeras teman-teman lainnya terbahak-bahak. Saat itu kami masih belajar di bangku sekolah menengah, dan pelajaran sejarah adalah hal yang paling membosankan. Pernah Ibu guru sejarah bercerita dengan rekannya sesama guru, ia juga bosan mengajar di sekolah kami. Sudah tiga tahun gaji beliau tidak kunjung naik. Aku mendengarnya dari balik ruangan kala dihukum akibat mencubit Dinda kali ke dua.

Si Dia



di penghujung malam
dia memandang genang air kolam
ikan-ikan koi berbisik-bisik sambil menyelam,
”apakah dia ingin wajahnya terbenam?”

di kolam itu bulan separuh pualam tenggelam
tak ingin muncul pada langit kelam
seperti dia tak kunjung dapat menggenggam;
sebongkah cinta hanyut terseret arus jeram
"kasihan dia –menabung rindu serasa semu rajam."



*****

Jakarta 2013

Leluk Tubuhmu


Tadi pagi, aku iseng. Nonton kamu tidur. Pagi belum sempurna, wajahmu ditelan bantal. Rokok, kopi dan aku masih iseng. Nonton kamu, sehabis semalam bercinta. Pagi belum sempurna, kicau burung masih beberapa. Embun masih beberapa dikulum daun, kecupku masih beberapa di sebagian lehermu. Aku iseng membuka selimutmu. Astaga. Kamu tanpa apa-apa.

Pagi belum sempurna, sebaiknya menunggu sebentar. Hingga matahari menembus jendela, hingga terangnya hinggap di atas ranjang. Kicau burung masih beberapa, hasrat ku juga masih beberapa. Ambil kamera, menunggu cahaya tepat, momen tepat. Sementara kamu belum bangun. Sementara kamu belum membuka mata. Perlahan kubalikan tubuhmu, ini dia momen tepat. Sinar empat lima derajat, sudut istimewa. Lensa digital tanpa suara, merekam lekukmu. Merekam bias cahaya, juga tanpa suara.

Hantu Lantai 13


Akhirnya kantorku pindah kesebuah gedung berlantai tiga puluh. Aku tidak terlalu suka sebenarnya, lebih baik seperti kemarin di perumahan biasa, tak sukar mencari makanan, dan tak perlu naik turun lift hanya untuk membeli sebungkus rokok.

Namun Ibu Bos sudah memutuskan demikian, supaya presentatif katanya. Maklum, meski kantor periklanan kecil, makin hari makin banyak klien kami. Dan lagi sewa gedung relatif murah sejak masa resesi global. Hampir semua gedung banting harga, apalagi gedung yang kami baru tempati, bisa dibilang hanya beberapa lantai yang baru terisi. Sebulan kami menempati ruangan baru, segalanya serba asing dan suasananya sepi sekali dibanding kantor kami terdahulu.

Laguh-Lagah Badai Laut


 
Ganggang menari di antara ruap-ruap ombak
Riang ikan berkejaran, lalu saling cari-sembunyi
Aku melihat Ayah meraih jala
Nelayan dari subuh mengibar layar merah kapal biru
Iring-iringan dengan lumba-lumba ke arah cakrawala
Tapi angin tak bersahabat pagi ini
Oleng kapal, dimainkan cuaca bersimaharajalela

Ingin kukabari para Ibu di tepian pantai
Bahwa kapal-kapal pergi tak kembali
Rupanya ada badai berlaguh-lagah
Angin meniup samudra serupa jerit sangkakala
Hujan dari sekawanan awan dari barat hingga timur
Ini hari mereka kehilangan; anak-anak berlarian
Mana suamiku, mana ayahku? teriak orang-orang  sambil sujud di pasir

*****

Bandung Tak Pernah Murung


Aku tak suka menempuh jalan tol, selain panjang berkelak-kelok, warnanya begitu kusam dan membosankan. Meski bebas hambatan, bersebelahan dengan truk-truk raksasa membuat laju mobil terasa lamban. Musik hanya dapat membunuh sementara, lalu aku menatap serius speedometer sedan yang kerap merayap naik sepanjang perjalanan.

Aku tahu dari balik kacamata hitammu, matamu terpejam, menyembunyikan sebaris jenuh yang kau tahan. Lalu bahumu menyandar padaku, rebahan. Menambah pegal rasanya di badan. Kilometer demi kilometer hingga bertemu kemacetan. Memaksaku memacu roda jadi perlahan. "Bangun sayang, kita sudah sampai. Bandung sudah di depan." Aku menggeser bahu kiri, agar kamu tak tidur keterusan.

Kota Bandung dipeluk mendung. Kelabu menggelayut manja namun tak mampu menghadirkan murung. Udara sejuk bersahabat dengan tubuh. Pori-pori bahagia. Dan jalan Dago seperti biasa, ramai jaya, mendatangkan kendaraan berplat B, berdatangan riuh bergulung-gulung. Entah apa yang mereka cari di sana, aku tak habis bingung. Apa pergantian suasana, pergantian suhu udara, pergantian kesibukan sehari-hari yang tak tak pernah rampung?

Pacarku



Pacarku,
kau jauh, begitu jauh
di mana aku harus melepas sauh?
Dermaga menjadi titik
pada peta Zeus

Malam ini kubayang
Sayap-sayap membentang
tumbuh di punggungku bagai elang
Agar bebas dari cupid berpanah api
menyulut nyala sepi
pada perkamen mimpi tanpa tepi

Dua Sejoli




Di tengah malam, dua lelaki berjalan tukar cerita
sambil mencegat becak.
“Enak ya, kenyal sekali dadanya.”
“Ah, aku lebih suka pahanya. Sintal, putih-mulus pula.”
Beberapa langkah dari mereka, lampu-lampu KFC meredup
tanda restoran cepat saji itu tutup.

Dua becak lewat, namun dari kejauhan terdengar suara,
“Pak ini kembaliannyaaaa…
uangnya kelebihannn….”
Dua waria melambaikan beberapa lembar ribuan.
“Nanti, nanti saja. Pegang dulu. Kami mau antar bapak-bapak ini,”
kata dua Bang becak hampir bersamaan.

Dewi Jingga



Tiga tahun yang lalu, aku masih berupa titik
menetes dari awan kalimat, jatuh ke daun-daun buku.
"Bayi hutan buku," kata Ibuku ketika mengambil tubuhku serupa embun mungil.
Aku hanya bisa menangis, minta susu, membuat Ayah iri saat ranjangnya kupakai
telentang minum susu.

Waktu aku mulai bisa berjalan kecil-kecil, Ayah kerap mengajakku ke sebuah desa
tempat ia bekerja memetik kata. Kata-kata yang ia bawa pulang,
disulam Ibu menjadi cerita pendek.
Sementara aku belum bisa membaca, apalagi menulis
maka Ayahlah yang membacakan sulaman Ibu sebelum aku tidur.

Celana Dalam Merah



Larik-larik rindu berakhir penasaran. Aku lapar bertemu Desy.
Desy haus bertemu aku. Balada kantin cinta, dari mata turun ke mana-mana.
“Jadi ke Malang, Nit?”
“Besok sore sampai. Ketemu di mana?”
“Di mana saja, asal jangan di kuburan.”