Kita Seperti Sepasang Sepatu dan BH




Dear mantan,

maafkan dulu saya pernah terbahak-bahak ketika kita mau nonton filem dan kamu menjatuhkan popcorn di depan orang-orang. Saya bukannya menolong membereskan malah pura-pura nggak kenal kamu. Saya maklum, pulang dari bioskop kamu bete luar biasa lalu tak mengacuhkan saya selamanya. Sampai saya harus beli sepasang sepatu Convers faforit kamu untuk membayar kesalahan itu.

Ya, kamu tersenyum dan memeluk saya pada akhirnya saat sepatu itu pas sekali untuk kaki kamu dan harmonis sama betis kamu yang diam-diam tak pernah saya lupakan sampai detik ini. Mungkin kamu nggak sadar punya kaki terindah, dan kamu juga nggak bakalan percaya jika saya mengatakannya. 


Bisa-bisa kamu justru ngambek lagi. Kok bukan wajah, kok bukan badan, kok bukan rambut, dada, pinggul, bokong yang dipuji, ujar kamu di perkiraan saya.

Maka sepasang convers itu adalah sepatu yang kesekian yang aku belikan buat kamu. Tapi saya nggak bilang ke kamu, gara-gara pengen membuat kamu seneng, saya sendiri nggak pernah beli sepatu. Lah, kan saya harus nabung dulu.

Sampai saatnya ketika kita udahan, baru deh koleksi sepatu saya mulai banyak. Dan sial juga bahwa kita ketemuan lagi dan lagi di toko sepatu yang itu-itu juga. Bedanya, saya beli dan milah-milih sendiri, kamu kelihatan bete mutar-muter mencari mana yang cocok, sementara pacar baru kamu asyik sama ponselnya. Di luar toko lagi.
Kita sama-sama kesepian, bukan?

Sekarang, saya sering keluar masuk toko BH. Pastinya untuk membuat pacar baru saya bahagia, apalagi dengan anatomi yang berbeda sama kamu.

Maafkan...


*****

2 komentar: