Ini Negriku! Mana Negrimu?



Cendrawasih melayang bak sutra selendang melambai, menyapa nyiur menyapa pantai merah pastel. Menjenguk gunung-gunung emas berdampingan sekawan tertancap di tanah, tempat lautan terumbu pesta warna karang menggapai langit biru. Terpantul di riak gelombang lagu nelayan. Kebyar-kebyar corak layarnya menepuk pipi ikan-ikan berloncatan, menunggu jala menunggu salam dari ganggang. Dan lambai mahkota cacing kipas serta kilau pulau-pulau, berserak di sepanjang lintas pelangi katulistiwa.

(tapi bukan kami punya, seru anak-anak berlarian menyeret mainan dari buah jeruk bali)

Sekelompok harimau Sumatra mengendap mencari sembunyi dari desing peluru, walau gema merdeka terdengar lantang puluhan tahun lalu. Sebelum Jalak Bali hilang kicaunya, sebelum lumpur-lumpur menjadi menara tinggi. Di antara puing-puing rumah dan tangis yang mengendap di bebatuan perak, di sawah-sawah mengering, sebab peluh petani tak kunjung usai. Bulirnya terjatuh pada padang-padang vanila ranum harum meluruh ke meja-meja mahal, tempat sekelompok orang berbicara tentang sejahtera tanah negeri sambil tertidur di bantal angka-angka rekening.

(tapi bukan kami punya, seru anak-anak tak berbaju dengan ketapel mungil di dadanya)
.
Ada permata dalam lapis bumi ini, ada minyak yang wanginya membuat negeri seberang iri hati. Ada cahaya keemasan di sungai-sungai, butirnya terdulang tangan-tangan payah tak menjangkau pendarnya. Meski generasi berganti setebal jumlah buku pada perpustakaan cendekia, dengan gelar hingar bingar celotehnya. Bangku-bangku perguruan tinggi menjadi istana kebenaran, kelabu bayangnya menutupi atap-atap bolong sekolah terpencil. Hingga tembus matahari segaris menerangi kaki telanjang pelajar yang terengah-engah memeluk aksara dan mimpi, dalam sekejap saja menjenguk pada tidur malamnya. Malam-malam yang menebar kunang-kunang di hutan-hutan patah oleh seribu gigitan dengkur gergaji, membangunkan reptil tertinggal dari jaman terdahulu. Lidahnya menjulur kelu menanti punah membelah sebentar lagi.

(tapi bukan kami punya, seru anak-anak jalanan yang lupa siapa nama ayah dan ibundanya)
.
Terumbu karang di raja ampat iri hati dengan komodo, jalak bali mencurah rasa pada harimau Sumatra. Pantai-pantai menggugat tambang emas, nyiur lupa wajah anggrek, batu bara melarikan diri ke lereng Semeru, katulistiwa malas menyapa rembulan sebab pulau-pulau membenam diri pada halaman-halaman kosong pura-pura tak kenal nelayan hingga ikan-ikan sungai Kapuas terbang bersama nuri Papua menjenguk kawah tiga warna yang kini suram tertutup mendung awan.
.
Riuh lengkap lampu-lampu pijar siang-malam di panggung layar televisi kristal cair. Serupa tarian badut dengan kaleng dan bola-bola berputar. Tersenyum ia -terbahak di balik topeng tebal rias melipat wajah-wajah di sudut kota dan desa masai, meluluh liur petani terjatuh pada segenggam nasi kemarin hari. Berbagi dengan ladang cengkeh, berbagi dengan hamparan kelapa sawit dan kopi dari barat hingga ujung timur. Mirip pasar maharaja di taman firdaus, tersusun tiap jengkalnya dengan semua dan semua yang tak terbilang. Lalu menjadi mainan sekelompok manusia, membuatnya menjadi dadu dilempar di meja judi dengan gelak tawa dan denting anggur serta asap cerutu dari balik bibir serigala berbaju tuxedo. Dikelilingi gaun gemerlap wanita-wanita rambut akrilik, yang menjerit-jerit dicubit dan ditindih hingga esok hari. Sebelum tenggoroknya tersekat sabit Izrail.
.
(tapi bukan kami punya, seru anak-anak yang tak jadi lahir, meski nafas mereka pernah ada!)
.

*******
.
Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang telah merelakan masa mudanya terbenam diperjuangan membela tanah tumpah darah ini, sehingga saya bisa leluasa bernafas jauh dari asap mesiu. Untuk mereka pula yang mencucur peluh memelihara laut dan daratan meski tak kunjung dihargai, tak pula dihormati. Betapa Tuhan sebegitu pemurahnya, hingga saya bisa berkata, “Aku punya negri yang setiap jengkalnya adalah permadani mutiara dan penuh dengan makanan serta minuman..Langitnya begitu indah menebar sinar dan hujan yang berdampingan bagai kedua sayap malaikat surgawi.”
.
Juga saya persembahkan kepada mereka yang masih lelap tertidur di kasur tua hingga belum menengok ke jendela terang, dimana suara-suara dari kejauhan memanggil-manggil kita untuk senantiasa memeluk, menyayangi dan memelihara setiap jengkal tanah yang kita pijak ini. Bangunlah teman-temanku, saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku…. sebelum ada yang datang dan mengambil semuanya ini lantas kita tak kan dapat memberi apa-apa, buat diri kita, buat anak-anak kita, buat cucu-cucu kita sekarang, esok dan kelak nanti.

Salam Sejahtera

3 komentar: