Bulan Kebiruan di atas Kuburan




Peperempuan itu datang ke kafe tepat jam 21.00, sendirian.

Hanya berteman air mata.

Pada papan menu ia mencari, barangkali ada nama kekasihnya di situ.

"Capucinta?" seorang barista menawarkan sajian.

Apa itu? Sejenis puisi kah?

"Kopi susu dengan campuran arabika dan robusta,

dicampur dengan susu murni dan kental manis."

Lantas?

"5 menit didiamkan bersama sebatang kayu manis dan gula aren."

Lalu?

Hiruplah setelahnya maka air matamu akan sirna.

Perempuan itu menggangguk.

Jam 21.15.

Sang barista meletakan secangkir kopi susu dengan sebuah kecupan

di dahi perempuan sendirian.

Ia ingat, beberapa waktu lalu kekasihnya masih bekerja di kafe itu,

Selalu menciumnya tatkala ia datang.

Dia,

"Maria si hantu perempuan,"

kata beberapa pengunjung kafe ketika melihat sesosok perempuan putih

lewat di teras café, saat hujan rintik

dan bulan kebiruan di atas kuburan.



******

4 komentar:

  1. Balasan
    1. waduh... kok "Hiiii..." :)
      makasih mbak Maria, sudah sempatkan mampir ke sini,
      salamku

      Hapus
  2. Aku suka deh sama penggunaan dan tata bahasa nya, jadi banyak belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama belajar mbak Manda... hehe
      terima kasih sudah sempatkan berkunjung

      Hapus