Paman Hujan






Aku adalah penangkap cahaya
Ibuku perempuan Jawa, Ayahku rembulan.
Sebulan sekali Ayah datang pada Ibu
sebab Ayah sibuk mengitari bumi, pekerjaan tetapnya.

Saat mereka berduaan di kamar, aku tak boleh mengganggunya
“Sedang datang bulan,” bisik Ibu menghiburku.
“Bermain-mainlah kamu dengan serangga malam.”
Sebagai penangkap cahaya tentu banyak sinar kugenggam,
sebagian serangga itu kuberi terang; mereka menjelma menjadi kunang-kunang.
Saking asiknya bermain, aku lupa hingga tengah malam
sementara di kamar mandi Ibu sibuk gebyar-gebyur.
Ayah pulang duluan, kembali ke balik awan
dan aku ketiduran di teras halaman, diterangi cahaya bulan.
“Selamat bobo nak,” kata beliau, lalu menghilang.

Sembilan puluh hari kemudian, aku punya adik baru
namanya Bintang, sering menangis tengah malam.
Minta minum susu sambil mengerjapkan kedua matanya
teman-temannya membalas di langit sana, ikut mengedip genit.

Tapi manakala siang hari, aku kesepian, Ibu dan adik menjadi bayangan
Ayah tak nampak, mungkin masih sibuk berputar-putar.
Aku cuma ditemani Matahari, mertua Ibu
yang akhir-akhir ini galaknya minta ampun.
Hingga membuat tanaman-tanaman di kebunku sedih layu.

Oktober telah tiba, aku tak sabar menunggu adik Ibu
si Paman hujan, Ayah dari segala puisi.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar