Buku Setumpuk Rindu


1325686890824304757


Aku akan datang padamu dengan setumpuk rindu.

Serupa halaman-halaman, tertabung ia menjadi buku. Pada lemari hati, di sanalah buku demi buku tersusun. Belum semua terbaca. Ada bahagian halaman tak kumengerti maksudnya. Istilah-istilah membingungkan dan dialog-dialog aneh. Aku beri penanda. Kutengok lagi nanti, sambil terus menuntaskan bab berikut dan berikutnya.

Mataku selama ini mengagumi sampul luar buku. Terkagum akan makna di balik warna, rupa dan tata letak. Itulah yang membuat aku ingin membaca isinya. Makin misteri desainnya, makin rasa ingin membaca meletup-letup. Sebuah kegairahan membimbingku masuk ke dalam. Mencari yang kuinginkan selama ini pada halaman-halamannya. Laksana perjalanan yang tak kuketahui arahnya, namun sanggup membuatku terus melangkah. Entah sampai kemana nantinya.

Selesai buku satu, kulanjutkan berikutnya. Seperti tadi, kuberi penanda yang tak kumengerti. Yang telah kubaca kutaruh di bahagian terbawah susunan. Ini kelemahan sekaligus kelebihanku. Adalah mudah memilah mana yang belum tersimak, namun sulit jika ingin kembali. Saat kusadari, yang sebelumnya lebih cocok -sebenarnya. Terlanjur beban buku-buku lain di atasnya memberatkan pencarian ke masa-masa yang terlewati. Malahan justru seringkali menjadi tanya: apakah betul sudah kubaca atau justru aku mencipta cerita sendiri, lantas kuletakkan bersama buku-buku lainnya?

Di antara tumpukannya ada yang kutulis sendiri. Bukankah aku kerap mencatat sesuatu dalam buku harian? Dengan idiom dan metafor pula tentunya. Aku tak suka terlampau jelas. Dan lagi, mana ada yang tahu; apakah hal-hal itu jelas dan yang lain tidak. Kecuali masa kini -sejarah dan esok hari sungguh bukan kejelasan. Masing-masing punya lembah dan ngarainya tersendiri. Itu maksudku. Seperti taman yang kerap kita singgahi, dahulu banyak capung beterbangan, kini tidak. Sebelumnya banyak bebungaan tumbuh di sana, sekarang ilalang merebut tempatnya. Dan kau pernah menulis sajak dalam buku harianku. Mungkin kau lupa:
.
…………………Kadang, setumpuk rindu itu bagai sekawanan awan
…………………lewat berkelompok berjalan
…………………Bagaimana aku menebak rupa apa itu,
…………………sementara terus berjalan pada tempo demikian cepat.
.
…………………Gumpalan abstrak, menyembunyikan ruparupa figur.
…………………Besar putihnya menutup langit. Menyekat mentari,
…………………hingga terangnya menjadi biasbias cahaya.
…………………Aku terpana. Dan  segera datang lagi sekelompok awan lain.
…………………Sejumlah kelabu, mungkin mengandung air di dalamnya.
…………………Apakah aku musti menerka pula, apa itu sedih tangis
…………………atau kegembiraan terbungkus haru?
.
Baiknya nanti aku bertanya, pada kamus cinta -tentang artinya. Sebab alam adalah sahabat, yang membawa larutan makna. Dan langit sesungguhnya bentangan kanvas raksasa. Aku dapat melukis pikiranku di sana. Suka-suka wujud goresannya. Apabila ada yang menyebutnya sebagaimana bianglala lembar kertas, maka tentu takkan habis untuk menulis. Lembaran yang tak bertepi. Demikian aku menyebutnya tentang cinta kita.
.
Aku akan datang padamu dengan setumpuk rindu.
Serupa halaman-halaman, tertabung ia menjadi buku. Pada lemari hati, di sanalah buku demi buku tersusun. Dan kau boleh menebaknya, mana yang kutulis sendiri, mana yang bukan. Kau tahu, aku masih menyimpan catatan perjalanan kita. Catatan yang turut tersusun di antara buku-buku itu. Aku banyak menyebut namamu di sana. Maka, aku berharap kau membacanya.

Meski untuk itu, seumur hidupmu harus kau habiskan denganku. Kedatanganku tak memungkinkan aku kembali pada kesendirian. Maka, berbaringlah di sampingku. Bacalah apa yang tertulis, agar kau pahami. Lalu ceritakan padaku kembali. Aku menunggu jawabanmu sambil menyiapkan makanan dan minuman kesukaanmu. Menunggu jawaban? Ya, karena aku juga bertanya sekaligus. Dan aku akan membuat satu set makan malam terakhir dalam masa lajang kita.
.
Niscaya lebah dan kupu-kupu berdatangan esoknya. Membawa sepiring rembulan dan secangkir madu.
.
.
*****
.
Coffeewar - Januari 2012

1 komentar: