Aku dan 12 Pacarku



“Aku menyukai senja sekaligus membencinya. Senja mengingatkan aku akan kedatangan dan perpisahan. Waktu terasa begitu lamban dan membuat segalanya samar-samar,” ujarnya ketika hujan usai. “Bacakan sesuatu, sebab aku belum tentu dapat mendengar suaramu lagi esok hari.”

#1
Aku sebenarnya kurang tahu apakah Anton adalah pacar pertamaku. Yang jelas teman-teman yang mengatakan bahwa Anton menyukaiku. Pada saat bersamaan, aku merasakan hal serupa: ingin terus-menerus melihat wajahnya. Apalagi dia orangnya pemalu.
Aku suka laki-laki pemalu. Bisanya hanya mencuri pandang dan kelihatan gemetar tangannya ketika pura-pura meminjam penghapus. Apakah aku –sebaliknya, lebih agresif?
“Sebaiknya putri Ibu jangan pacaran dulu. Bagaimanapun dia masih SD,” ujar wali kelas ketika memanggil orangtuaku.
#2
Yang kedua namanya Roy. Sekarang entah di mana dia. Ketika ada acara reuni SMP, Roy tidak datang, padahal aku ingin sekali bertemu setelah sekian lama berpisah. Saat SMP nama Roy kutulis berulang kali di buku harian. Sedangkan nama aku, kata dia, tidak ada di buku hariannya. Dia tidak suka menulis. Tapi, halaman terakhir di setiap buku pelajarannya ada muka aku dalam coretan kartun. Dia sendiri yang menunjukan padaku, juga pada teman-teman. Aku jadi malu.
“Si Roy, pacarmu itu sekarang sudah jadi seniman. Mengembara kerjaannya. Aku pernah bertemu di pedalaman Kalimantan,” ujar Vina ketika reuni, “dia sedang mempelajari tato orang-orang Dayak.”
“Kamu sendiri ngapain Vin, di sana?”
“Waktu itu aku tugas jadi dokter. Aku lihat lengan kanan Roy ada rajah bergambar muka kamu dalam bentuk kartun.”
Benarkah muka aku? Roy fanatik gaya jepang jika menggambar. Setahuku, dalam aliran manga setiap visual perempuan terlihat sama; bermata besar, tapi hidungnya hanya segaris lengkung kecil, dan rambutnya berjuntai berlebihan.

#3
Namun, hubunganku dengan Roy hanya sebatas perasaan. Sama sekali kami belum pernah bergandengan, apalagi berciuman. Kira-kira setahun kami saling suka, setelahnya Roy lebih asyik dengan hobi menggambarnya. Sebab itu aku jadi dekat dengan teman kelas sebelah, namanya Didit. Anaknya cakep, bulu matanya lentik seperti perempuan. Rambutnya rapi dan kesukaannya menyanyi. Suaranya membuat aku jatuh hati.
Teman-teman memanggilnya Didit PKI, gara-gara dia kurang percaya Tuhan. Pasalnya, ibunya yang selalu mengantar-jemput Didit meninggal ketika kami masuk tahun kedua di SMP.
“Kalau memang Tuhan Maha Penyayang, mengapa Dia tidak sayang sama aku?” katanya dengan mata sembab, “buktinya Dia mengambil Ibuku cepat-cepat.”
Kasihan Didit, sejak itu menjadi anak yatim dan ayahnya tidak pernah pulang, bahkan saat pemakaman ibunya. Didit akhirnya pindah ke Semarang, sekolah di sana dan dibesarkan oleh Bude-nya. Sebelum kereta malam membawanya, sepucut surat diberikan padaku, isinya tentang hatinya yang selama ini hanya terisi oleh dua nama: nama ibunya dan namaku.
Aku menangis. Bukan hanya soal kepergiannya, tetapi teman-teman yang keterlaluan men-cap-nya dengan sebutan PKI. Mentang-mentang namanya mirip dengan ketua partai komunis tersebut. Huh!

#4
Menjelang ujian akhir SMP, aku sering dikunjungi Roy. Tapi bukan Roy yang suka menggambar itu. Ini Roy juga namanya, anaknya bule, keturunan Jerman. Jika malam minggu tiba, dia kerap berkunjung ke rumah, berpakaian rapi layaknya orang dewasa. Matanya kebiruan, rambutnya ikal coklat keemasan.
“Welcome... welcome..,” kata bocah-bocah kecil tetanggaku. Roy dikira turis kesasar.
Sayangnya, orangtuaku kurang menyenangi Roy bule, sebab kami beda agama. Padahal dia jenius, juara kelas dan juara SMP selama tiga tahun berturut-turut. Orangtuaku khawatir, jika hubungan kami berlanjut sampai jenjang pernikahan. Sebab, ayah dan ibu saya dahulu juga sudah saling menyukai ketika masih seumuranku.

#5
Sejak SMA dan perbedaan agama menjadi penghalang, aku menjadi perempuan yang pemilih. Aku bertanya terlebih dahulu kepada setiap cowok yang menunjukkan gejala-gejala naksir,“Agama kamu apa?”
Rasanya ganjil bertanya seperti itu, dan teman-teman SMA juga memandang aneh kepadaku. Sudah pada kenyataannya di sekolah kami terdiri dari anak-anak dari berbagai agama, golongan sosial dan suku yang berbeda. Apakah Sumpah Pemuda dan Pancasila hanya sebatas pelajaran sejarah saja? Untuk urusan cinta, ternyata semua hal jadi lebih kompleks urusannya.
Untungnya ada Umar, dulunya dari pesantren, pandai mengaji dan rajin beribadah. Orangtuaku senang dengan Umar, malah lebih senang ketimbang diriku sendiri pada Umar.
“Kamu akan masuk surga kalau pacaran sama dia,” ujar Vina, temanku sejak SD.
“Iya Vin, aku sudah jadian sama dia. Tapi bukannya di agama Islam kita dilarang pacaran?” jawabku, “berarti Umar sudah melanggar agamanya sendiri?”

#6
Umar masuk IPA saat penjurusan, aku memilih IPS. Hubungan kami merenggang dan akhirnya lenyap tertiup waktu. Di kelas IPS aku dekat dengan Leo, cowok tinggi besar yang sedari awal mencuri perhatian. Seperti angin pula, kisah aku dan Leo cuma tiga bulan. Dia meninggal akibat kecelakaan motor.

#7
Kesedihan tidak gampang berlalu, dan aku masih menyimpan kenang-kenangan dari Leo: kalung perak hadiah ulang tahunku. Dan selama itu, Vina lah yang kerap menghibur, menemani, dan sering bermalam di rumah.
Anehnya, lama-lama justru aku menyukai Vina. Cewek tomboi yang selama ini menjadi teman berbagi perasaan dan pikiran. Juga selalu melindungiku ketika ada orang-orang yang mengganggu, terutama waktu kami jalan-jalan.
Suatu ketika dia menginap di rumahku dan mengungkapkan rasa cintanya padaku. Entah kenapa waktu itu aku menggangguk saja. Hampir saja bibirnya menciumku. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, adikku tanpa permisi masuk mengambil novelnya yang kupinjam.
Esoknya, orangtuaku menasihati, bahwa hubungan kami bukan hubungan yang sebagaimana seharusnya. Seketika itu aku sadar, aku mulai menyukai sesama jenis. Mungkin trauma berhubungan dengan laki-laki atau entahlah...

#8
Vina menghilang, pindah sekolah karena malu, selain kepada orangtuaku juga terhadap gunjingan teman-teman. Aku juga malu, dan memutuskan untuk cari SMA lain. Lalu terdampar di sekolah yang dekat dengan rumah. “Biar gampang diawasi,” kata ayah.
Masalahnya, yang mengawasiku bukan hanya beliau, namun laki-laki tetangga baru kami di sebelah rumah ikut-ikutan. Laki-laki yang seumuran dengan ayah, seorang duda, yanga sudah lama menaruh hati padaku. Itu menurut celoteh teman-teman tetanggaku. Dan aku percaya.
Sebenarnya tidak soal bagiku tentang perbedaan usia, toh yang seumuran juga bermasalah. Sebab itu, diam-diam aku menjalin hubungan asmara dengan laki-laki itu.
Kemudian terdengar kabar, bahwa laki-laki tersebut sebenarnya sudah mempunyai istri. Aku sungguh tidak mengetahui. Yang aku paham adalah, dia guru sekolahku sendiri. Sedangkan istrinya bekerja di luar kota. Mana aku tahu?
Akhirnya aku kena damprat istrinya, dianggap merebut suami orang dan menghancurkan mahligai perkawinannya. Aku lantas mengundurkan diri dan minta maaf. Tapi untungnya ayah dan ibuku tak tahu menahu permasalahan ini. Aku jadi benci setengah mati dengan guruku itu.

#9
Masa mahasiswa tiba, aku masuk perguruan tinggi dan menjadi sedikit bebas bergaul. Hari-hari menjadi begitu menyenangkan, sebab banyak rekan senior yang bertubi-tubi menyatakan cinta. Kali pertama dalam hidup, aku merasa cantik.
Aku jadian dengan ketua senat, orangnya bersikap dewasa, sebentar lagi lulus sarjana. Sambil kuliah dia merangkap bekerja paruh waktu sebagai jurnalis. Karena kesibukannya itu, justru dia belum pernah bertandang ke kediamanku. Padahal aku ingin sekali mempertemukannya dengan orangtua. Siapa tahu direstui.
Tak dinyana, ketika ada pernikahan saudaraku, si pacar juga hadir. Usut punya usut dia masih punya pertalian darah dengan keluarga kami. Jatuhnya malah saudara sepupu. Aku terkejut bagai terkena setrum voltase tinggi. Dia apalagi.

#10
Sampai lulus sarjana, aku malas pacaran. Giliran orangtuaku kebingungan, bagaimana bisa anak gadisnya menjadi dingin macam lemari es. Beberapa kali keduanya bertanya serius apa yang terjadi sebenarnya dengan diriku.
Saking paniknya, aku akhirnya dijodohkan dengan anaknya teman ayah. Pada saat ini cinta bukan lagi masalah perasaan. Cinta menjadi semacam matematika, penuh perhitungan dan mengalahkan seluruh gejolak hormon. Demi amannya, demi kelanggengannya. Barangkali.
Baru dua minggu berkenalan, anak teman ayahku itu langsung ingin melamarku. Namun aku menolaknya mentah-mentah. Walau rasioku berjalan sebagaimana komputer canggih, aku belum siap menikah. Dan lagi ternyata perasaanku pada akhirnya menjadi penentu.
Aku malah memilih teman kantor yang lebih tampan, lebih mapan dan lebih membuat nyaman. Tiga tahun kami berpacaran, lalu...

#11
Jodoh. Ada hal-hal yang telah digariskan. Kita boleh punya kemauan, tetapi bagaimana jika suratan Yang Kuasa berkehendak lain?
Pacarku khilaf, membuat hamil sekertarisnya.
Sepertinya ini musibah lagi. Begitu lah yang aku rasakan. Dunia berkeping-keping rasanya. Sebelum hancur luluh, muncullah sebuah jalan terang. Di mana aku tak peduli lagi, di mana aku tak mampu mengeja lagi soal C-I-N-T-A. Ibarat malam semain pekat, diujungnya fajar siap merekah.
Dia datang lagi, setelah sekian lama.
Roy...

#12
Mungkin Roy lah cinta pertamaku, dan sekaligus babak akhir halaman. Kami menikah setelah pacaran satu tahun. Benar kata Vina, di lengannya ada rajah bergambar wajahku, meski berupa kartun manga.
Tato itu mulai memudar, dia berusaha menghapusnya dengan berbagai cara. Roy ingin menjadi seniman yang biasa-biasa saja. Sama sepertiku: tidak ingin mempunyai keinginan muluk seperti dahulu.
“Sejak umroh bersama Didit PKI itu, aku mulai malas aneh-aneh,” katanya sambil mengenakan baju koko untuk solat Jum’at. “Malahan, Didit sudah haji sekarang, kamu sudah dengar?” tambahnya.

Ah, sebenarnya ini bukan pengalamanku sendiri, namun aku ceritakan padamu agar kau tahu kisah ibuku dari catatan hariannya. Dulu beliau suka menulis, sekarang lebih banyak waktunya tergeletak di tempat tidur. Belakangan ibu sakit-sakitan, maka kubacakan lagi tulisannya saat muda dulu, sebagai hiburan. Beliau sudah banyak lupa.
Sebaris senyum menggaris wajah ibu ketika nama Roy kusebut-sebut. Nama ayahku yang tak pernah kulihat semenjak aku lahir, kecuali dari foto-fotonya.

 “Senja membuat segalanya samar-samar. Bacakan sesuatu, sebab aku belum tentu dapat mendengar suaramu lagi esok hari,” ujar ibu pada suatu hari ketika cakrawala bercahaya ungu-lembayung.
*****

Jakarta, 2015


2 komentar: