Dear Fidel

Foto: Fidel


Dear Fidel,

Aku sudah pulang kampung. Beberapa hari di pinggir sawah aku termenung. Bingung. Kata Bapakku, aku kayak orang linglung. Jalannya aja limbung. Malahan hampir masuk kolam ikan, kecemplung.

Kemarin aku nyaris jegur sumur saking malunya. Soalnya sudah terlanjur omong ke Bapak sama Ibu, sudah pula beritakan ke teman-teman sekampung. Bahwa aku mau bawa kamu, bahwa aku mau kenalin kamu ke semua orang.  Mau berbangga hati sebab punya pacar kamu. Tapi gak jadi. Bertepuk sebelah tangan, gayung tak bersambut. Kecewa. Frustasi. Mau bunuh diri. Tapi Bapak bilang, "You are too young to die, but too old to Rock'n Roll"
Artinya apaan sih?

Untung Bapak mencegah aku mati muda. Kolam-kolam ikan itu dikasihkan ke aku. Obat penawar cinta sebelah hati, katanya. Ya, aku terhibur. Sebab ikan-ikan itu mulai pada bunting. Mungkin tiga hari lagi bertelur. Seminggu kemudian bakal menetas telur-telurnya. Kolam yang satu, ikan Maskoki. Yang sebelahnya, ikan Guppy. Warna-warni. Cerah-cerah elok kibasan ekornya, lambai siripnya, pigmen sisiknya. Fidel pasti seneng deh, kalau melihatnya.

Terus, aku sudah terima undangan resepsi pernikahan kamu. Tapi mungkin aku gak datang. Selain Jakarta jauh, aku kuatir pingsan pas lihat kamu di pelaminan. Atau takutnya aku ngamuk-ngamuk, malah bikin perkara. Ya cuma bisa melantun doa, menembang dzikir, berharap-harap sama yang Kuasa. Supaya Fidel bahagia berumah tangga. Agar langgeng sampai akhir jaman. Dikarunia anak yang banyak.

Terus, kata Ibu, semua ini sebab salahku. Kenapa aku gak dengerin kata beliau. Jauh-jauh hari Ibu sudah nyuruh aku belajar musik. Minimal bisa main gitar. Feeling Ibu benar, kamu sukanya sama yang pinter musik. Rock'n Roll, atau apalah namanya. Nah terus dan terus lagi, aku ngaca. Wah iya juga, rambutku gak gondrong, gak punya Tato, kurang fungky, jauh dari Rock'n Roll. Lagian aku agak manja...hehehe. "Perempuan seperti Fidel gak bakalan mau sama kamu. Dia suka yang cool, tegar, mandiri. Nah kamu melow gituuu.." kata Ibu sambil mengusap-ngusap kepalaku.

Ya sudah Fidel, nanti kalau kamu punya anak, kasih tau aku ya. SMS aja. Jangan lewat internet, aku gak ngerti email-emailan, inbok-inbokan, fesbukan. Sori, gaptek. Masih simpan nomer Hape-ku kan? Nanti aku mau kirim ikan buat anak kamu. Ikan Guppy yang warna-warni, biar buat temen dia. Taruh di toples kecil juga gak apa-apa, kasih makan pelet ya. Airnya diganti separuh, seminggu sekali.

Dan jika anak kamu sudah besar, ceritakan soal ikan itu ya. Kasih tahu dia, ikan itu dari aku. Biar dia paham, ada orang yang mencintai Ibunya sepanjang matahari sinar-bersinar. Cinta yang datang dari denyar-denyar relung kalbu. Cinta yang tak mungkin diganti dengan seribu penghujan. Cinta yang bagai rembulan dan matahari, tak pernah bersanding rupa walau bersisian di tata surya.

Suatu hari anak-anakmu pasti mengerti, Ibunya memang titisan Dewi Drupadi. Mereka akan bangga, mereka akan menyayangi kamu, seperti aku sayang kamu. Dan berbahagialah dia yang beruntung mendapatkanmu, yang memetik wajah manismu setiap hari. Yang bisa memelukmu sesuka dia mau. Sang kumbang yang bernasib baik, rebah mesra ia didekap rekah kelopak kasihmu.

Dear Fidel,
sudah dulu ya, salam sejahtera untukmu, juga calon suamimu.


Dari aku,
si pedagang ikan hias.


NB: Kini setiap malam tidurku seperti bayi, dua jam sekali terbangun. 
Inget kamu.


*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar