Bintang Jatuh


Aku punya tetangga, anaknya banyak; ada lima orang.
Di antara tetangga lain, rumahnya sederhana, atapnya nyaris ambruk
dindingnya berwarna lusuh, hanya ilalang tinggi di halaman.
Kaca-kaca jendela berdebu, sofa di ruang tamunya menyembulkan busa
semua tampak usang, seperti baju-baju yang mereka kenakan.
.
Musim yang muda, aku sesukanya bermain di sana
kadang numpang makan siang bersama.
Satu panci besar mie instan, adalah menu utama mereka
di samping nasi dan beberapa butir bakso.
Aku tak melihat ada udang dan sayur segar, tak menjumpai pula
daging maupun telur. Namun mereka makan dengan lahapnya,
kecuali aku.

Satu-satunya yang membuatku berselera adalah pohon cemara,
tumbuh tiga pohon di antara ilalang halamannya.
Ayah mereka menanamnya, entah buat apa,
aku baru tahu belakangan.
Pohon-pohon cemara itu sering dikunjungi burungburung gereja
pagi hari, juga sore: meloncat antara dahan
dan bersuara, berceloteh dari paruh-paruh mungil, seolah bernyanyi.
.
Jika Natal tiba, satu diantara pohon itu ditebang, diletakan di ruang tamu
lalu Ayah mereka menanamnya bibit baru, hingga tak kurang jumlahnya
selalu tiga, begitu seterusnya.
.
Pohon cemara muda, kira-kira tingginya dua meter
dihias beramai-ramai termasuk aku.
Dengan guntingan kertas warna, berpola lonceng,
lembar keemasan dibentuk bintang.
Ibu mereka membuat rupa malaikat meniup terompet,
lantas aku membuat garisgaris potongan kertas putih
yang dijuntai serupa salju di daun-daunnya.
.
Pohon Natal itu tak berlampu, tak juga ada hadiah di bawahnya
hanya nyala lilin biasa yang menerangi.
Begitu sederhana, sesederhana keluarga itu.

Aku sering mengintip dari balik jendela,
tatkala sepulang mereka dari Gereja malam Natal,
berkumpul keluarga itu dengan keriangan
yang sulit aku gambarkan.
“Kok tak pernah ada hadiahhadiah ya, dibawah pohon Natal kita?”
satu dari mereka bertanya pada Orangtuanya.
“Kebersamaan kita dan hati kita yang gembira, adalah hadiah
terbaik yang Tuhan berikan,” jawab Ibunya
dengan segaris senyum.
.
Aku lihat di langit ada bintang yang jatuh,
konon itu pertanda ada doa orang yang dikabulkan.
“Semoga..” gumamku dalam hati, sambil pulang berjalan kaki.
Andai saja Ayah dan Ibuku tak berpisah,
mungkin malam ini perasaanku sama seperti mereka.
.Air turun dari mataku,
berharap ada bintang yang jatuh lagi.
.

*****

3 komentar: