Untuk Gadis Berpesona Purnama



Kepada
Gadis berpesona purnama
.
Jika saja masih punya esok: aku hendak mengajakmu
pergi ke negeri kincir-kincir angin berputar siang malam.
Di antara permadani bunga-bunga tulip berkelopak cerah
lintasan burung-burung kenari oren memadu janji
tempat para seniman menaruh hati.
.
Lalu kita naik kereta malam, melintasi pepohonan oak
mendaki lembah-lembah hijau-biru bersalju
menjejakan langkah ke hamparan Eidelweis di puncaknya.
Di mana lagu The Sound of Music pernah menggema
dan konon; ujung pelangi ada di sana.
(Jangan kuatir tentang dingin, ia takkan menelusup
pori-porimu. Aku akan mendekapmu sehangat anggur Perancis.)

Jika saja masih punya esok, aku hendak mengajakmu (lagi):
memetik bintang, membuat soneta, berenang di laguna sambil mewarnai ikan
bermain harpa, menyulam dinding rumah kita dengan puisi,
makan melon manis di atas pohon, membuat istana mungil dari ice cream,
tidur berselimut seribu mawar, mandi di telaga dengan menjangan,
memelihara anak naga terbang, naik kereta kencana yang ditarik kuda-kuda putih
yang bertanduk putih yang bersayap putih.
.
Maka usaplah seluruh rindu dari kaca berhiasmu,
kibas mutiara cair turun dari tatapmu.
“Mata pesona purnama,” aku menyebutnya sambil menyalakan
lilin-lilin berwarna keemasan. Berharap kau dengar bisikanku, berharap
kau dengar. (Hati mempunyai alasan sendiri untuk berbisik tanpa henti.)
.
Senyumlah merah buah ceri, musim ini aku akan kembali
selekasnya membawamu pergi. Mari mengembara!
.
.
NB:
Nantikan aku dengan secangkir nafas panjang, gaun bulu angsa
dan mata pesona purnamamu.
Ini dunia buat kita, dan hanya kita,
yang mengarungi lembar cerita dari masa hingga masa.
Sebelum kokok jantan terakhir bersuara,
lantas dunia diam seribu bahasa.
.
PS: I Love You!
.
Jakarta Agustus 2011

Dari trubadur jalana.
(Yang sedang mengumpulkan receh koin
untuk tiket mengembara. Mengembara?
ah, mari menetap saja
di dalam rumah hati kita!)
.
.
****
.

3 komentar: