Cerita Pendek di Bawah Pusarku



Di keremangan kafe, segelas bir berpendar kemuning
serupa lampu kamar tidurku. Setengahnya tertelan
bibir seorang perempuan, yang terselimuti
kepul asap sekelingking rokok mentol.

Mungkin ini malam dia berlama-lama,
selama terang layar note book-nya
menjelas ayu paras wajahnya.

Dia tetap mengetik,
gelas bir kedua datang.
"Hai.." sapaku dari seberang meja.
"Hai.." tersenyum dia membalas tanpa menoleh,
pahanya ramah menatapku diam-diam.



Aku tak tahu siapa dia dalam lagu jazz mengalun,
padahal malam sebentar lagi menjatuhkan embun.
Desah Norah Jones merayuku membuat puisi,
ketika segelas bir hadir di sebelahku dan segelas lagi
mampir di seberang, bir ketiga untuknya.

Kepulan asap menari-nari, mengawinkan kata dan nada.
Setengah bungkus tembakau terbakar,
naluriku menjalar, meraih tangannya mengajak dansa.
Aksara bertukar rupa dan rima,
kami menari-nari di antaranya.

Pukul lima pagi,
gerimis menggaris deru mobilku
dan dia mulai bercerita
mulai tertawa, mulai bertanya,
lalu terdiam dalam keheningan pondok sewa.

"Namaku Djenar."
Dia berkata di tengah dentuman
lenguh kami yang bersaut-sautan,
sejak kutulis puisi di bawah pusarnya
dan dia menulis cerita pendek
di bawah pusarku.

.
*****

.

7 komentar: