Balada Surti Sang Penari Jalanan



Dia adalah Surti perempuan penari, bergoyang dikelilingi ramai sorak dan tepuk riuh. Menari meliuk pinggulnya, menyatu buaian lagu dan tubuh. Pentatonik nada berloncatan dari gending selaras bertabuh. Saban siang, saban sore lentik tari jemarinya mewarna sudut jalan yang kumuh.

Dia tanpa peduli akan nasib tak kunjung berubah. Meski setiap hari, setiap putar waktu mengandung lelah. Sebagai penari jalanan lenggok badannya meruah rekah. Senyum segaris manis membelah, mengandung sinar memesona cerah.

Badannya gemulai bergerak melambai selendang, mengikuti alunan tembang riang dendang. Begitu senantiasa dia bertandang. Buat siapa saja yang ingin terhibur, menjauh dari susah, menepis segala rintang.

Surti tanpa lapang selasar untuk mengadu rasa dan gelisah. Dari pagi hingga petang berjarak panjang dari teduh rumah. Setiap langkah adalah desah nafas tercurah. Buat dirinya dan anak semata wayang yang perlu nasi dan sekolah. Hujan guruh gemuruh adalah kawan, terik dan debu menjadi teman. Dari jalan satu ke lain arah, ia hinggap bagai kupu-kupu mereguk bunga segala taman.Dia adalah Surti sang penari jalanan.

Pernah ada Tauke dari seberang pulau, meminta dirinya sebagai istri di rantau. Sebuah sawah di sebelah surau, akan menjadi mas kawin andai dia mau hatinya dijangkau. Namun Surti enggan dua kali tersia-sia, setelah ditinggal suami pergi tanpa jelas. Mahligai kasih dan sayang kandas, ia serasa melayang lalu jatuh bebas.
.
Lenggokku di mana tuan mau, kugoyang semasa ada uang
Senyumku bukan dari warna gincu, meski pinggul meliuk, aku bukan jalang
Parasku tuan, bergegas memetik nafas sampai waktu berhenti datang
Wangi melati di rambutku tak lain tak bukan, tuk hidup anakku kini dan mendatang
.
Setiap laki-laki ingin mendekapnya erat seribu malam, setiap perempuan menyumpah sampah serapah. Kepada indah tubuhnya, kepada belahan dadanya, kepada padat bokongnya, kepada pesona kahyangan senyumnya. Matanya dikitari cahaya embun, memanggil-manggil setiap insan, dari terang mulai terik hingga terbenam surya dilarut senja.

Dipetak rumahnya, jelaga dan asap dapur adalah segala-gala. Ranjang berselimut kain penuh tisik, merajut seutas mimpi walau sekejap kilas bintang jatuh. Buah hati yang tertidur kenyang dan lelap adalah kilau emas yang berharga, lebih dari pada seluruh harga gunung dan lautan.

Kemuning padi dan kepak burung branjangan tak berarti baginya. Roda lori berputar di kebun tebu, adalah derik suara yang tak terdengar dari gubuk bambunya di sudut desa. Menuntas lapar dan dahaga menjadi satu-satunya agar bersama hidup dengan alam sekitar.

Di keheningan malam ia bermimpi, seorang lelaki datang membawanya jauh pergi. Digapainya tangan mungil buah hati, turut melangkah bersama ke tangga-tangga nirwana keemasan. Subuh yang datang sekejap, menarik lekas cahaya pagi bergaris-garis bersama derai gerimis. Perempuan itu terbangun, jendela terang sudah, roda kehidupan masih bergerak maju memacu lentik jari jemarinya.

Namun ada hari dimana malam bertopeng jahanam, sepinya serupa pisau tajam mencekam. Sang penari pulang mengamen sehari penuh. Tubuhnya lelah, keringatnya meluruh. Dikeheningan sayup riak sungai, langkah kaki-kaki celaka memburunya. Menerkam dari balik rindang pohon waru. Dia terjatuh ditindih tujuh rupa haus birahi, melepas dahaga memuncak dari balik celana. Sang Penari tak mampu lari dari tangan-tangan berkuku serigala, mengikat dirinya dan melepas semua pakaiannya. Dia mengerang sekuat sakit yang menerpa, namun jeritannya terbenam pada malam berawan hitam. Angin berlarian datang berdesir kencang, menepi lolong lorong tenggoroknya. Sesudah itu, semua selesai carut marut dan masai. 

Malam kembali hening, sehening langit di atas tanah kuburan.

Tercecer baju bunga batik di antara sobek ungu selendangnya. Melati terlepas dari gelung rambut, terhempas terinjak hilang wanginya. Durjana meninggalkan luka lebam biru dan sayatan, membungkam mulut dan telanjang tubuhnya. Bagai seonggok daging terlantar di bawah lebat dedauan berwarna kelam, ia terbentang menunggu ajal yang sebentar lagi datang.

Pagi mampir dengan kabar sumbang lara, sekelompok anak desa menemukan dia tanpa nyawa. Orang-orang berdatangan, sebahagian melirih sedih, sebahagian lainnya tertawa-tawa dalam hati. Kembang jalanan purna sudah rekahnya, menjadi layu merengkuh semak penuh ilalang. Lenggak-lenggok pinggul berisi, tak lagi mewarnai setiap jalan dan sudut kota, suara tabuh dan gending berhenti sampai di sini.

Pada pojok bilik bambu kumuh dan reyot atapnya, seorang bocah kuyu menangis tak henti berkepanjangan. Ibunya kini tak ada, hangat peluknya sirna semenjak malam. Kayu api dan panci-panci kosong, masih di sana menunggu dia yang tak kan datang lagi. Selimut kain penuh tisik menjadi kerudung duka, seolah memeluknya membalut lara dan luka, hangatnya terasa dari bau bekas tubuh Ibunya.
.
Lenggokku di mana tuan mau, berhenti melagu saat ini dan seterusnya
Tangisku bukan leleh keluh dan kesah, meski badanku kau koyak rusak
Hidup dan mati adalah urusanNya, hamba hanya menari menyambung nyawa
Apabila menjadi sebongkah bangkai tanpa ruh terbujur kaku membeku
Mungkin suratan sebaris takdir yang mengalir dari lahir hingga kini berakhir
.
Parasku tuan, bergegas tidur di kabut sekawanan datang
Wangi melati di rambutku punah rebah, usang putihnya
Terjatuh kelopaknya di liar semak merah belukar
Yang basah oleh darah dan genang air dari kedua mataku.
.
"Tuhanku, bawalah hamba pergi ketempat yang tak seperti ini,
peliharalah senatiasa buah hatiku yang sendiri hanya Kau menemani."
.
(Setangkai bunga doa tersebut dari bibir sang penari jalanan, sejenak sebelum udara di paru-parunya berkemas pergi.)
.
.
*****
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar