Melukis Bayangan




Ujian lulus SMA usai, pesta merayakannya telah digelar seminggu lalu. Corat coret seragam putih kelabu dan konvoi sorak sorai di jalan, menjadi kenangan.Yang  lanjut kuliah berangkat ke bimbel. Semuanya sibuk berburu universitas favorit . Hanya Sarah yang masih diam di rumah, cita-citanya ingin jadi dokter kecantikan sepertinya harus dikubur dalam-dalam. Sarah selalu terobsesi untuk cantik dan ingin membuat indah wajah orang lain. Tapi itu hanyalah angan belaka, uang darimana untuk membiayai studi keinginannya. Ibunya hanyalah penjahit biasa, di sudut gubuk sebuah desa.

Jika memaksa kuliah mungkin Ibu menyanggupi. Karena belakangan ini, ibu memperoleh pesanan banyak dari tetangga. Namun dia harus merelakan  ketiga adiknya putus sekolah.  Rasanya tidak adil mengorbankan masa depan mereka demi mimpinya. Mungkin lebih baik seperti Kak Wati, bekerja saja meski cuma buruh biasa.

Sarah termenung di kamarnya, poster-poster artis lokal dan mancanegara memenuhi dinding bambu di kamar sangat sederhana itu. Matanya menerawang jauh, tangannya mengelus satu-persatu gambar itu. Wajah cantik BCL membuatnya iri, foto keren Justin Bieber membakar semangatnya, dan mata tajam Avril Lavigne membuatnya cemburu. Ingin bisa seperti mereka itu. Jadi artis, jadi selebritis.



Bagaimana ya, rasanya jadi artis film. Pasti banyak yang naksir barangkali. Sorot lampu, mata kamera dan teriakan sutradara mungkin menyenangkan. Begitu juga kerlap-kerlip lampu wartawan, gosip-gosip yang bertebaran, masuk di majalah, koran dan TV. Mengasyikan. Sarah mengkhayal jauh mengawang.
Aku juga ingin ditaksir aktor pria yang keren, badannya tinggi dan pujaan terkenal. Andaikan aku bintang film, pasti telpon genggamku penuh suara dering siang-malam. Undangan party, gemerlap dugem bisa aku alami sepanjang waktu. Karena itu aku perlu baju bagus, dandan cantik plus asesoris. Semakin liar imaji 
Sarah, bagai membelah cakrawala buana muda.

Bagaimana jika di bilang lebay. Ah, terserahlah, bukannya yang berkata itu juga lebay. Dunia ini panggung sandiwara kata orang, kenapa kita tidak ikut di dalamnya.  Cuman jadi penonton, capek ah, melulu duduk dan makan popcorn. Aku ingin ditonton juga, aku suka dikagumi apalagi jadi impian setiap orang, betapa indahnya hidup ini. Dialog-dialog aneh semakin gencar di benak Sarah.

Gadis pemimpi ini  beranjak ke depan cermin yang sedikit buram.  Seksama ia perhatikan tubuh semampainya. Ehemmm…sedikit lebih berisi akan terlihat proporsional, sambil memegangi pinggagnya yang ramping. Hanya masalah gizi saja, gumamnya dalam hati. Sarah membelai rambut panjangnya yang bergerai pesona.  Lalu menyentuh wajah ayunya yang menggemaskan, hidung bangir dengan bibir tipis, seperti boneka Barbie. Kulit wajah ovalnya masih sedikit kasar, karena rawatan seadanya, tidak pernah di facial apalagi dipoles dengan bedak mahal. Untuk cantik memang butuh biaya. Dan Ibu tidak akan sanggup, bisa cukup untuk makan 3 kali sehari saja sudah untung. Kembali gadis cantik ini mendesah.

Burung malam kini terbang,
melintasi langit kelam, memecahkan kesunyian hati


Sarah terus mengagumi kecantikan alami yang dimilikinya, pantas saja banyak teman cowok menaruh hati padanya. Tapi Sarah menolak. Ia ingin jadi artis dulu baru akan mencari cowok keren sebagai kekasihnya.
Ini bukan narsis, Ibuku memang berkata begitu. Aku tidak jelek, para tetangga juga sering bilang aku layak jadi foto model. Tapi aku mau jadi bintang film, bukan cuma boneka pajangan. Berekspresi, menyihir perasaan orang, membuat orang mimpi, itulah yang aku mau. Layar lebar sungguh mempesona, aku catat dalam buku harianku.

Temanku ada yang selebritis layar lebar, minggu kemarin mengajakku casting. Ada rumah produksi membutuhkan pemain baru untuk sebuah peran cinta. Temanku bilang, sutradara ingin gadis remaja yang manis dan lugu, kalau bisa berambut panjang. Film ini perlu sosok romantis, biar penonton pada menangis. Sedu sedan adalah kesukaan banyak orang.

Aku lolos seleksi awal, minggu depan babak final, aku tak sabar menunggu hari-hari gemerlapan. Shooting film akan dimulai bulan depan. Temanku SMS, isinya sebuah bocoran, sutradara suka sama penampilanku, selain cantik bisa juga pura-pura sedih dan menangis katanya.
Dear diary, dukung aku ya. Aku ingin ngetop seperti Natalie Portman. Aku ingin dipuja seperti Zhang Ziyi. Dear diary, aku gembira malam ini, aku bingung musti menulis apa, lembar-lembar kertasmu sudah padat kutulis mauku. Aku mulai mengantuk.

Malam ini malam panjang, mimpi memeluk diriku dengan seribu tangkai mawar. Aku seperti berjalan di awan, hendak kugapai bintang disana. Tanganku menjadi bayangan hitam, di balik bulan purnama.
Tiba-tiba, aku mendengar suara deru kendaraan lalu terbangun. Ya ampun, pukul sebelas siang ternyata, lama sekali aku tertidur. Mimpi membuatku tidak ingin bangun rupanya.
Astaga, aku lupa menanak nasi. Ibuku sarapan apa tadi pagi.? Aku buka pintu kamar, seperti biasa, meneguk segelas air putih terlebih dahulu sebelum mandi. Aku melihat ibu sedang menjahit tisik bajuku. Wajahnya terkena sinar matahari yang menembus dinding bambu rumahku. Jendela ruang tamu sudah terbuka lebar semenjak pagi, sekilas aku melihat burung branjangan menghampiri sawah. Tampaknya padi sudah mulai menguning.

Aku bergegas mengambil handuk kumal, hari semakin terik, hawa panas menyambar tubuhku. Ibuku tiba-tiba memanggilku ”,Sarah, kamu tidur lama sekali. Mimpi apa tadi malam? Kamu mengigau, ngomong sendiri. Kamu berteriak ingin jadi bintang film!, Ibu khawatir, jangan-jangan kamu demam dan panas tinggi.” Aku terdiam, membisu seperti batu. Handukku terjatuh. Mataku menerawang ke jendela. Burung branjangan sudah terbang tinggi.

*******

Di kamar mandi sempit itu, ia mengguyur tubuhnya. Menuangkan shampoo saset yang masih tersisa sedikit bekas ia pakai pagi kemarin. Bak seorang putri iklan ia mengibas rambut, dengan gaya aduhai memainkan sedikit busa di kepalanya. Ia tersenyum bahagia, melumuri tubuhnya dengan sabun murahan yang sudah menipis. Sarah menikmati setiap polesan di seluruh tubuhnya. Ah kali ini Sarah sungguh sedang menjalankan perannya sebagai bintang iklan di kamar mandi reot dan tak beratap.
“Sarah… cepat dong.  Mandi aja lama,  telat nih aku. Memangnya kamu rorojonggrang?” kak Wati menggedor pintu kayu kamar mandi keras-keras. Sarah tersentak. “Ah, mengganggu aja. Bawel, sungut Sarah dalam hati. Cepat ia bilas rambut dan tubuhnya. Hanya tiga gayung selesai, tidak boleh lebih karena bisa-bisa yang lain tidak kebagian air mandi.

Senja membayang di ufuk timur
Si raja siang siap beranjak pergi
disambut malam yang kian berani menantang
Segores pelangi setengah melingkar
di langit merah petang.

Hening, diam dalam kesendirian.
Tak tahu kemana kaki akan dilangkahkan
Mimpi mengekor disetiap ujung bayangan,
tidak mau lepas terasa kuat mencengkeram
Ingin menjadi kejora diantara bintang-bintang malam

Sarah membulatkan tekadnya, kali ini harus berani bicara sama Ibu. Ragu ia menatap mata teduh Ibu, wajah wanita setengah tua itu terlihat kurus. Beban hidup yang menghimpit membuatnya lupa untuk bersolek diri. Lihatlah kulitnya mulai keriput di sana sini, tetapi matanya tetap bersinar sejuk. Pancaran kasih sayang yang tulus dari seorang ibu. “Bu, Sarah mohon pamit, Sarahakan ke Jakarta meraih mimpi” Sarah tak sanggup bertemu pandang dengan Ibu. Sarah tak ingin Ibu menangkap kegamangan dalam jiwanya.

“Ibu tak bisa melarangmu nak. Karena Ibu juga tak punya biaya untuk melanjutkan sekolahmu ke Perguruan Tinggi. Mauku, kau tetap di sini bersama kakak dan adik-adikmu. Tapi citamu ingin jadi artis, apa daya Ibu. Ibu hanya berdoa agar kau berhasil menggapai mimpimu. Tuhan menyertaimu nak.”
Gadis pemimpi menghambur ke dalam pelukan Ibu. Dengan tangis haru ia berucap “terimakasih ibu, Sarah akan jaga diri baik-baik.”

Langit cerah, mentari memantul di balik jendela kaca bus . Hati Sarah melayang menembus arus angin yang mengibarkan rambut hitamnya. Hutan-hutan liar, hamparan sawah yang hijau bak permadani menyejuk mata. Sarah bersandar ke punggung bangku, memejamkan mata. Membiarkan matanya terlelap hingga saat terjaga ia telah berada di ibukota.


Kulukis bayangan di awang-awang,
membaca setiap bentuk yang tercipta dari asa yang bergelora.
Kemanapun jua ku kejar mimpi ini,
takkan lelah seperti elang yang tak berhenti mengepak sayap di langit bebas.



Gedung-gedung pencakar langit membuatnya takjub, semua yang tersaji di depan mata seakan membawa angannya pada mimpi yang nyata. “Jakarta” kota impian yang ia damba.
Sarah masuk ke sebuah kamar sederhana, Nanik sahabat kecilnya kini terlihat cantik. Nanik sekarang telah menjadi seorang model, meski belum terkena. l Tapi Sarah kagum dengan semua yang ada pada diri Nanik. “Ayo..Sarah istirahat dulu, nanti malam aku akan ajak kamu keluar. Akan kuperkenalkan pada bosku di rumah produksi .”

Setelah melepas kangen, Sarah masuk ke kamar. Ia tak bisa memjamkan matanya begitu saja, masih membayangkan pertemuannya nanti malam dengan bosnya Nanik. “Pakai baju apa ya?” Sarah membuka tas ransel, ia bingung. Di dalamnya ada beberapa helai pakaian, sama sekali tidak berkelas. Dan masih kalah dengan baju rumahan yang dipakai Nanik barusan. “Duuuh..giman nih?” Sarah mulai cemas.
Tepat jam tujuh malam, Nanik masuk ke kamrnya. Nanik cantik sekali malam ini. Dres berwarna marun tipis selutut, memperlihatkan betisnya yang jenjang. Baju itu pas sekali di tubuh Nanik yang putih semampai, Sarah iri dan malu memperlihatkan baju yang akan dipakainya.

“Ayo, ganti baju kita berangkat” ajak Nanik ramah. Malu Sarah menjawab “Iya saya ganti baju dulu ya” Ia mengeluarkan sebuah dres berwarna pink tua, ini satu-satunya baju kak Wati yang paling bagus. Hasil pinjaman ketika akan berangkat. Tetoron kasar, dan sedikit agak longgar di tubuh Sarah.
Seorang pria yang sangat tampan, duduk di depan mereka Sarah mengenalnya sebagai Galang. Nanik bilang itu bosnya. Dan besok Sarah boleh datang untuk casting pertama. Malam berlalu dengan ceria, Gadis pemimpi menikmatinya dengan bahagia. Sesekali Galang menatapnya dengan tatapan genit, tapi Sarah suka dan membalasnya dengan senyum tipis.

***

Sarah duduk terkulai lemah di atas ranjang. Tubuhnya polos selimut biru tipis menutupi bagian dada ke bawah. Sarah tidak mengerti apa yang terjadi. Seingatnya siang tadi ia masih difoo sama Galang. Kemudian saat istirahat mereka minum bersama, Sarah tidak ingat apa-apa lagi. Sampai tadi Galang datang dan mengecup keningnya lembut. Galang menyampaikan semua yang telah mereka lakukan.
“Duuuh gusti, apa yang telah kuperbuat?” Sarah menangis dengan penyesalan yang mendalam.

Asa tercabik seketika
Membunuh mimpi – mimpi malam tanpa sedikitpun sisa
Laksana kejora yang tertutup cahya
Ohh…. Ku hanya bisa melukis bayangan saja
Granito Ibrahim & Fitri Yenti

1 komentar: