Obladi Oblada



Waktu saya masih memakai seragam putih biru, saya tidak menyukai matematika. Meski pelajaran penting, buat saya tidak ada gunanya. Saat itu saya masih bercelana pendek dan membenci eksakta, rumus pitagoras hanya tertulis di papan kelas. Saya tidak tertarik logaritma, tapi menyukai satra dan seni suara. Buku tulis hanya buat daftar lagu berikut kord gitar, guru matematika hilang akal, katanya masa depan saya terancam suram.

(Dua belas tahun silam, dan masih terbayang hingga kini. Wajah-wajah muda, tanpa luka tanpa lara.)

Waktu saya masih memakai seragam putih biru, saya benci matematika, tapi menyukai gadis teman sebangku. Namanya Dinda, wajahnya manis dan terang kulitnya. Ia mencintai eksakta, gemar kimia namun membenci sastra dan seni suara. Pohon flamboyan tumbuh di depan kelas, tempat saya dan Dinda membuat PR bahasa. Guru kimia hilang akal, katanya masa depan kita terancam cinta buta. Pohon flamboyan bergoyang kekiri kekanan, tertiup angin pubertas, musim beranjak dewasa. Tiba-tiba, Dinda memberi secarik kertas, -baca di rumah- begitu pintanya. Seekor kupu-kupu melintas, kuning warna sayapnya, menebar aura pancaroba.

(Dua belas tahun silam, dan masih terbayang hingga kini. Beberapa masih menyimpan kenangan, beberapa menguap ke cakrawala.)

Saat itu saya masih bercelana pendek, bersepatu kain kavas, belum punya ponsel apalagi sambungan internet. Rumus pitagoras hanya tertulis di papan kelas, di kantung celana isinya surat rumus cinta, dari Dinda yang membenci sastra dan seni suara. Dinda manis dan terang kulitnya, rambutnya panjang sampai atas payudara. Di rumah saya baca surat dari Dinda, kapan mau jalan-jalan begitu dia bertanya. Pohon flamboyan bergoyang kekiri kekanan, tertiup angin pubertas, musim beranjak dewasa. Guru matematika hilang akal, sudah lama ia menduda, namun tiada satu kupu-kupu yang hinggap di hatinya. Cinta itu seperti campuran kimia, reaksinya sulit diraba dan diterka.

(Akal sering mematikan rasa. Bagaimana tentang kangen, sepi, dan rasa gelisah yang menari menggoyang sukma?)

Saat itu saya masih bercelana pendek, belum punya ponsel apalagi sambungan internet. Untung semua PR eksakta dikerjakan Dinda, sementara saya membuat puisi dan dan mencatat bocoran soal lagu daerah. Minggu depan kita ujian. Dinda paling malas menghafal siapa pengarang buku Layar Terkembang, tidak peduli tentang Chairil Anwar, tidak peduli mana Gurindam mana Soneta. Buat dia sastra itu , secarik kertas dari saya, balasan surat ajakan jalan-jalan. Sementara guru kimia hilang akal, umurnya tiga puluh dua, belum jua satu kumbang yang berani melamarnya. Cinta itu seperti matematika, gampang dihitung namun panjang penjabaran, begitu pikirnya. Hatinya seperti tiang bendera di depan kelas, kesepian. Berdiri tanpa bendera tanpa makna, masuk angin.

(Sejumput rumput mendayu dayu, batangnya rebah seolah saling memeluk. Semilir angin membungkusnya).

Pohon flamboyan tumbuh di depan kelas, tempat saya dan Dinda membuat PR bahasa. Mumpung masih remaja, malam minggu nanti kita pergi. Tapi PR matematika kamu yang buat, rengek saya. Dinda mengangguk, wajahnya merona mirip bunga kenanga, mulutnya mengulum permen karet, lesung pipitnya timbul. Saya memetik gitar, lagunya Obladi oblada. Ini masa pancaroba, segala rasa hanya bisa dikatakan oleh nada. Sementara kelas sudah kosong, meja dan bangku berdekapan. Hari menjelang sore, guru kima mendapat telpon, seorang duda mengajak pergi malam minggu nanti. Guru kimia hilang akal, perasaannya tersandung senyawa oksigen, nafasnya menghirup atom hidrogen. Selaksa daun flamboyan goyang bersama dengan buaian tembang lama, obladi oblada. Kupu-kupu berkejaran dengan kumbang, keduanya mencari manis madu sekelompok bunga.

(Dinda merebahkan pipinya ke pundakku, hangatnya terasa hingga sumsum tulang belakang. Awan pubertas lewat sambil tersenyum genit dan centil, menggoda.)

Pohon flamboyan tumbuh di depan kelas, dahanya sering menjadi panjatan anak-anak.  Jika musim hujan tiba, putik bunganya berguguran, sebagian terhampar di tanah, sebagian di atap kelas. Malam minggu tiba, saya dan Dinda mengitari kota, menikmati lampu tengil ibu kota. Udara begitu muda, bebas merdeka, mirip di tahun empat lima. Awan tertawa, bulan purnama, sinarnya membentuk  lingkaran cahaya, terangnya hingga ke wajah Dinda, begitu memesona. Saya lirik dia malu-malu, lantas mencubit paha saya. Dinda manis dan terang kulitnya, malam ini mengenakan blus biru tua, potongan sabrina. Hormonku puber sempurna. Ah, ini kali pertama hatiku mencepat debarnya, tak sebaris kata mampu mengeja rasa, lampu kota seperti seribu kunang-kunang tertawa. Simpang jalan Melawai, kulihat ibu guru kimia berjalan di sana, di gandeng mesra seoarang lelaki. Ternyata itu bapak guru matematika.

(Obladi oblada, terkadang tidak ada tempat untuk sebuah logika. Obladi oblada, biarkan musim berganti menjadi selaksa rasa.)

Seekor kupu-kupu melintas, kuning warnanya tebar pesona. Obladi oblada, Dinda sejak itu menemaniku saat pelajaran sastra atau kimia. Membuat PR bahasa atau bertukar surat rumus cinta, darah muda mencapai klimaks puber pertama. Derai tawa tiap hari menjadi oksigen pada bangku dan papan kelas, anak-anak suit-suit aneka rupa. Adalah sebuah simulakra di mana bermain adalah batu batanya.

Saya memberi Dinda secarik kertas lipat tiga, isinya tentang janji dan sajak cinta, mirip sumpah palapa saat buana sebesar daun kelor hijau muda. Ini dunia mirip panggung opera, siapa jadi badut siapa jadi nenek sihir. Mau pilih peran rama, yang lain menjadi dewi sinta. Kala itu saya masih memakai seragam putih biru, di kantin anak-anak bertukar kisah dan canda. Beberapa saling cerita tentang guru matematika, tidak dinyana ia membuat guru kimia berbadan dua. Kali ini anak-anak yang hilang akal. Cinta tidak mirip matematika, satu tambah satu sama dengan tiga. Ternyata.

( Saya cium pipi Dinda di belakang kantin. Esoknya dia berbisik,“Kamu kemarin cium aku, berarti aku akan hamil sebentar lagi. Kamu siap nikah muda?” )


*****


Jakarta, 2011

1 komentar:

  1. hahahahahahaha..... kalau dicium bisa hamil yaaaaa.... ingat zaman kapan itu... Lucu.

    BalasHapus