Dewi Jingga



Tiga tahun yang lalu, aku masih berupa titik
menetes dari awan kalimat, jatuh ke daun-daun buku.
"Bayi hutan buku," kata Ibuku ketika mengambil tubuhku serupa embun mungil.
Aku hanya bisa menangis, minta susu, membuat Ayah iri saat ranjangnya kupakai
telentang minum susu.

Waktu aku mulai bisa berjalan kecil-kecil, Ayah kerap mengajakku ke sebuah desa
tempat ia bekerja memetik kata. Kata-kata yang ia bawa pulang,
disulam Ibu menjadi cerita pendek.
Sementara aku belum bisa membaca, apalagi menulis
maka Ayahlah yang membacakan sulaman Ibu sebelum aku tidur.

Desa yang pernah ditunjukan Ayah penuh tetumbuhan.
Penduduknya tidak banyak, masing-masing
berumah di atas pohon.

Serupa peri-tongkat-sinar, penduduk desa mempunyai sayap dan lampu.
Tiap malam mereka bermain, bertukar cinta.
Cinta yang seperti bola kembang api, berputar-putar dibuat
main tangkap-lari-sembunyi. Sepercik cahayanya jatuh ke ubun-ubunku,
dan sejak itu lah aku mulai bisa menulis.

Tulisanku pendek-pendek saja. Berwarna merah jambu,
mirip warna awan-awan yang kerap lewat di
atas desa itu. Dan sejak tulisanku menjadi sajak,
penduduk desa menggangapku sebagai anaknya sendiri.

Saat aku dewasa, aku baru bisa mengerti, desa itu terdiri dari rangkaian kata.
Seluruh penghuninya adalah penyair jikalau siang
menjelma menjadi kunang-kunang di waktu malam.

Ada sebuah pohon aneh di desa itu yang batang rantingnya lain sendiri
bercabang lima, masing-masing mengeluarkan cahaya pelangi, meski di malam hari.
Di depannya terbentang sebuah danau tempat
menjangan mandi dan burung-burungmalam minum air.
Jika tepat jam duabelas malam, muncullah
seorang dewi dari dalam danau
namanya Jingga, Ibu dari segala senja.

Dewi Jingga sering bermain-main denganku,
beradu tangkas-lempar-puisi. Aku masih ingat betul,
di pangkuannya lah, puisi pertamaku lahir.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar