Senyawa
oleh: Granito dan Je Zee
Dan buatku cinta itu berderai tanpa tepi, tanpa henti…
Kau
bercerita tentang ikan-ikan salmon menempuh jauh, bertelur di air
payau. Tentang kupu-kupu mencumbu kembang lalu berkejaran dengan
kupu-kupu lainnya. Kaubilang ada bahasa, mungkin isyarat, tentang
gelombang desibel yang hanya dimengerti “sang penerima”. Serupa jejak
pulau dan benua: beberapa terpecah serupa mozaik, sebagian lainnya
berdekapan hingga menjulang pegunungan. Kau mengatakan demikian, tentang
apa yang kaupikir berjauhan, dapat saja bertemu, menjadi utuh
menyeluruh, untuk ribuantahun kemudian.
“Jarak mencipta
antara. Bagai bintang yang seolah berdekatan, namun nyatanya terpisah
ratusan tahun cahaya. Tapi ini bukan tentang ilmu pasti. Ada
ketidakpastian yang tak mampu dijawab otak kiri. Ada ketidakpastian yang
pasti. Katakanlah tentang senyawa. Apa yang kau pikir tentang itu?”
Sekali
lagi, ini bukan tentang kimia. Bukan tentang asam basa. Tak serumit
molekul dan unsurnya. Kautahu, ini sederhana saja bagiku: aku, kamu,
menjadi satu dan sejiwa. Aku meyakininya. Kau percaya? Lalu kau dan aku
membentuk kita. Kita senyawa, tak peduli unsur asal ikatannya. Saling
percaya, bahkan atas apa yang tak mudah diterima logika. Padahal,
sebelumnya aku hanya setengah. Tercecer sisanya entah di mana. Lalu
Tuhan memberi dirimu sebagai hadiah, mengisi yang seharusnya.
Ibu yang Menyulam Kenangan
Ada anak bermain gelembung senja
ditiupnya hingga menjadi gelembung hujan.
Bola-bola bening mimpi berterbangan
anak itu bersorak, “Hore… Ayah pulang.”
Ayahnya datang dari awan membawa oleh-oleh
“Ini pelangi buat kamu. Simpan ya,” katanya sambil
menyerahkan pita rambut. Ayahnya lalu kembali ke awan
naik gelembung hujan.
Siluet Tubuh Anjani
Cahaya mulai temaram, matahari sedikit lagi terbenam dari arah utara. Alde meletakan layang-layang yang baru saja ia terbangkan. Anjani mengusap kakinya yang penuh pasir pantai, setelah keduanya asik dengan kesukaanya masing-masing.
“Laut itu mengerikan, Anjani.”
“Masa sih, apanya yang buat kamu takut?”
“Bukan takut kayak orang takut hantu lho….maksudku misterius.”
“Buat aku sih, eksotik. Apalagi jelang Sunset begini.”
“Cahayanya iya, tapi lautnya tetap mengerikan. Lihat ombaknya deh..”
“Alde, justru ombaknya punya sensasi tersendiri. Lihat deh orang-orang malah seneng banget mandi buih ombak..”
“Apa kamu gak bayangin, berapa dalamnya, ada apa di sana, dan seterusnya..”
“Aku malah merasakan kedamaian di sini, De.”
“Iya sebab Jakarta macet, di sini lenggang. Nggak kerja serius pula..”
“Bukan itu..”
“Trus..?”
Kuntum-kuntum Bening
: Kepadamu yang setia memandangi jubah kelabu tempat sembunyiku…
Telah lama kuperhatikan dirimu
yang senantiasa menanti hadirku. Pijar bola matamu saat melihat jubahku dari
kejauhan adalah isyarat bagiku untuk segera menemuimu. Sekiranya kita mampu
bertemu, tentu saja telah kubisikkan banyak kisah padamu. Namun kali ini
biarkan sahabat sejatiku yang bercerita, berbisik pelan-pelan sambil
mempermainkan anak-anak rambutmu. Ia banyak tahu tentangku, pun aku telah
berbagi padanya.
Mulaku dalam rupa barisan kristal
dari putih buih samudra yang menapaki tangga kapas-kapas udara biru. Meluluh
bersama gemuruh, menjadi selendang bening yang menyapa sejuk gunung. Sebagian
menghening telaga cermin pendar cakra keemasan, sebagian berkelompok bernyanyi
dengan bebatuan menggulung selaksa oksigen menggapai kehidupan sejumlah tebaran
akar. Akupun tak jemu bercengkrama dengan setiap lapis kedalaman lalu meruah ke
celah-celah litosfer. Seluruhnya aku menjelma menjadi setiap bentuk yang
kusinggahi, kujelajahi, lalu menyatu pada lingkar rantai nitrogen memeluk
setiap nafas mahluk yang ada.
Kemudian pada tanah-tanah yang
rekah serupa kelopak mawar kurebahkan diriku. Menyelusup, mencari sela di mana
partikel-pertikelku bisa menyatu dan merekatkan kembali pelukan bebutir coklat
yang berserak, lalu menguarkan aroma rindu yang mendamaikan hati. Aroma yang
menjadi penanda orkestra para katak tak lama lagi dimulai.
Sastra dan Saya
Di sebuah bar dengan papan nama seronok,
menjerit-jerit silau lampunya. Memanggil-manggil mereka yang ingin
melewati malam dengan sloki cinta on the rock. Memagut bibir gelas
bergaram Tequila, menikmati Kahlua dalam irama disko latin yang
menghentak lantai dansa. Lantai yang dikerumuni para pencari riuh,
pendulang sensasi goyang musikal, berwarna-warni kilau metalik
pakaiannya.
Saya sendirian berteman gurih Nachos dan
Chivas bercampur cola dingin. Meski dinginnya tak membekukan tatapan
saya ke arah perempuan bercelana jeans lebih rendah dari pinggulnya,
membuat segaris merah celana dalamnya mengintip tanpa malu-malu. Dia
bersebelahan dengan saya, sama-sama merokok, sama-sama sendirian. Dalam
hitungan kesepuluh di benak, saya memperkenalkan diri. Kesendirian saya
sirna sekejap. Nama perempuan itu, Sastra.
Mawar Merah Putih
Mawar merah dan putih. Berjatuhan kelopaknya membawa embun air mata. Satu-satu bulirnya terhisap tanah dan rerumputan. Beberapa hinggap di atas secarik surat yang tergenggam, lalu merah dan putihnya padam.
Ini malam minggu. Aku tak tau siapa yang musti kutunggu. Jarum jam
bertopang dagu. Waktu jadi bisu, gagu. Aku telah merdeka dari rindu yang
membelenggu, bebas dari kangen yang kerap mengganggu. Namun setelah
berminggu-minggu, aku jadi ragu. Apakah kebebasan ini adalah kebebasan
yang aku inginkan? Apakah kesendirian ini membahagiakan, atau malah
menjerumuskanku pada kesunyian? Tidak ada angan-angan, tidak ada merdu
nyanyian. Semuanya terasa begitu perlahan, mematikan. Hanya kesepian yang
berjalan, di antara gumpalan awan-awan pikiran. Lantas kekosongan
mengisi rongga perasaan.
Surat-surat yang kau berikan, sudah lama aku bakar. Sebelum kenangan
akan dirimu akan menjalar. Dan gambaran wajahmu menebar, bagai air yang
masuk pada akar. Lalu pikiranku dipenuhi jalinan belukar membuat dadaku
berdebar. Tanganku gemetar, dan kemana aku akan bersandar? Sekarang,
semuanya begitu datar, datar dan datar. Matamu yang penuh binar, bibirmu
yang merah mekar, dulu aku melihatnya setiap saat bulan cerah
berpendar. Suaramu yang indah selalu kudengar, begitu indahnya seolah
dunia ini berhenti berputar. Suara yang kini tak pernah kudengar, meski
kubuka telinga ini lebar-lebar.
Paman Hujan
Ibuku perempuan Jawa, Ayahku rembulan.
Sebulan sekali Ayah datang pada Ibu
sebab Ayah sibuk mengitari bumi, pekerjaan tetapnya.
Saat mereka berduaan di kamar, aku tak boleh mengganggunya
“Sedang datang bulan,” bisik Ibu menghiburku.
“Bermain-mainlah kamu dengan serangga malam.”
Sebagai penangkap cahaya tentu banyak sinar kugenggam,
sebagian serangga itu kuberi terang; mereka menjelma menjadi
kunang-kunang.
Kata Mereka Ibuku di Surga
nanti kalau mati, apa yang akan diingat manusia lain tentang aku? kebaikanku? keburukanku? atau.. gunungan sampah tempat bertemu tuhan dan aku?
—–
ibu, kata mereka kamu di surga. betul ibu? kalau iya aku ingin menyusul
kesana. didongengkan kamu tentang indahnya istana dunia. dongeng saja
ibu. karena pada nyata, dunia adalah neraka tempat aku mempertaruhkan
segala. segala. bahkan hidup, nafas dan nyawa. ibu, kata mereka kamu di
surga. kata mereka di sana ada taman bermain. ada bunga-bunga yang
menyapa. dengan segala tawa. betul ibu? kalau iya aku ingin menyusul
kesana. aku ingin melihatmu, menyentuhmu, membelaimu. karena pada nyata,
aku sungguh bukan siapa-siapa. kecuali beling-beling dan seonggok
botol plastik, menjadi temanku. tempatku bercerita.
Langganan:
Postingan (Atom)









