Kuntum-Kuntum Bening


: Kepadamu yang setia memandangi jubah kelabu tempat sembunyiku…


Telah lama kuperhatikan dirimu yang senantiasa menanti hadirku. Pijar bola matamu saat melihat jubahku dari kejauhan adalah isyarat bagiku untuk segera menemuimu. Sekiranya kita mampu bertemu, tentu saja telah kubisikkan banyak kisah padamu. Namun kali ini biarkan sahabat sejatiku yang bercerita, berbisik pelan-pelan sambil mempermainkan anak-anak rambutmu. Ia banyak tahu tentangku, pun aku telah berbagi padanya.

***

Sepenggal Kisah Masa Lalu

.

Jika saja taman mungil itu masih di sana, tentu aku sudah semenjak tadi menangkap capung-capung yang kerap beterbangan di sana. Capung-capung berwarna hijau dan kuning, bersayap bening, mengayuh udara, seolah berenang di angkasa. Kadang bersembunyi di balik ilalang, warnanya tersamar dengan bunga rumput yang tumbuh liar. Pelangi yang hinggap di cakrawala, membuat capung-capung datang semakin banyak, berputar-putar mencari sejumput keindahan yang menari di sore hari. Beberapa ekor mulai mencari pasangan, berkejaran dan tidak mau kalah oleh kehadiran para kumbang.

Jika saja taman mungil itu masih di sana, tentu aku sudah mengajakmu ke sana, mencoba menangkap capung yang terbang dengan tangan kosong. Dan tentu saja tak seekorpun tertangkap genggaman kita, capung-capung itu sungguh lincah, justru kitalah yang diajak berputar mengelilingi taman, menjenguk kesederhanaan suka cita. Sebagian batang ilalang rebah karena lari langkah kakimu yang kecil, namun tumbuhan itu tak mengeluh atau mengaduh, aku lihat sejenak mereka bangkit kembali.  Sesudah kaki-kakimu menjauh. Sementara tanganmu masih menggapai mahluk yang berenang ria di angkasa jingga.

Kesepian Kita


Kamu bercerita tentang malam, namun aku merasa kini kita mulai menjauh. Tapi entah kenapa hati kita begitu tetap merekat luluh. Mirip dua sayap kunang-kunang yang biasa kita lihat saat kita bermain di antara ilalang, di bawah tebar gemintang jauh. Kau sering mengajaku berlarian di sana lalu merebah di sebelah pepohonan, menatap angkasa malam dan rembulah separuh. Ingatkah kamu, ada satu dua daun yang jatuh? Dan kamu bilang pohon itu melepas sauh. Agar kita tak pernah kemana-mana menjauh. Agar kita tetap di sana, saling melihat rembulan dan membuang jauh-jauh aneka keluh.

Aku pikir bau tubuhmu mungkin kulupa, namun lekukmu tak hilang dari setiap indra perasaku, bukit dadamu yang mulai tumbuh dan desahmu bagai memanggil sang rembulan. Dan kamu berbisik kembali, sini kuceritakan satu kisah. Kemarin, aku melihatmu senyum manis sekali. Kita lama bercerita. Bercerita tentang apa saja tanpa jeda. Cerita tentang kamu. Tentang aku. Cerita tentang kita. Tentang cinta. Semua bak nyata.

Kunang-kunang membawa lentera, menjadi rinai cahaya di tengah purnama. Dan kamu tertawa setiap kunang-kunang itu terbang di wajahku.

Aku, Kau dan Pelangi


.
Merah

Aku sering bertanya dalam hati, kenapa pelangi hanya timbul, saat reda hujan? Ingin lihat pesta warna di langit, harus menunggu mendung.  Lalu menanti air jatuh dari langit. Masalahnya jika hujan sore hari dan petang baru usai rintiknya, pelangi tak kan datang. Direngut sinar rembulan dan gelap malam. Pelangi itu semu, tak dapat di pegang, diraih, apalagi dibawa pulang. Namun aku suka, meski semu, aku begitu menyukainya.

Jingga

Ini tentang mimpiku semalam, mimpi tentang pelangi yang menari-menari merayakan kemenangan usai gerimis hujan. Tak pernah ia menyesal bahwa hadirnya hanya sekejap saja dalam mewarnai bumi.Tak pula ia merutuki gerimis dingin yang mencipta gugu dan gigil.Tidak juga mencaci mentari yang hanya mampu sementara membiaskannya. Karena yang ada hanya rasa syukur pernah menjadi pelangi, pernah memesona dunia dengan berbagai warna indahnya.

Dia adalah Chika



.
.
Dia adalah Chika

Menjadi cerdas itu biasa, menjadi pintar itu juga biasa. Kebetulan seluruh siswa sekolah itu memang anak-anak yang pandai. Nah, masalahnya adalah menjadi juara kelas dan juara SMA bukan hal gampang. Bisa naik kelas atau lulus saja sudah untung.

Dari sekian banyak siswa ada satu anak yang paling menonjol nilai-nilainya. Menjadi cerdas itu biasa buat cewek berambut sebahu, periang dan banyak temannya. Dia bukan tipe serius apalagi kutu buku, sebagaimana layaknya anak lain, dia juga gemar bermain, ngobrol ngalor ngidul dan tentu saja aktif dalam kegiatan pelajaran ekstra kurikuler.

Coklat Hati Segi Empat



Niki

Gue nggak mau pacaran sama seniman, egois. Mau seganteng apa mukanya, gue nggak mau. Yang dipikirin cuma kerjaanya, temen-temennya sama lamunanya doang. Mau ditaruh dimana gue-nya? Emang, dia enak diajak omong, enak diajak jalan, nongkrong di cafĂ©. Gue lupa waktu kalau berduaan sama dia, ada aja yang kita omongin, ada aja yang gue bikin betah. Emang, dia tuh pendengar yang baik, kalau gue curhat pasti didengerin, di situ gue senengnya. Eh, gue seneng? Nah lho…

Kemarin pas ke rumah, dia bisa tuh ngobrol ama nyokap, jarang-jarang tauk, ada cowok bisa ngobrol ama nyokap gue, secara dia galak banget biasanya. Apalagi sama temen-temen cowok gue. Gile nggak? Kalau bokap sih nyantai aja, nggak terlalu banyak komentar soal dia. Cuma aja rada keberatan sama rambut gonjesnya itu. Hahaha, justru itu kok yang aku suka, nggak tau kenapa. Padahal awul-awulan gitu kaya daun cemara kusut. Kemarin gue beliin sisir, gue taruh di dashboard-nya dia, biar agak rapi, secara orang-orang suka ngeliatin kalo kita nonton. Lho kok gue mulai perhatian ya? Weeew…

Dinda dan Aku



Aku pikir, batang flamboyan di depan kelas itu tak lagi bersahabat dengan kita. Buktinya seringkali menjatuhkan rantingnya yang kecil dan kering, saat aku dan Dinda duduk dibawahnya. Dan ranting kering itu seringkali melayang sebentar, seperti menari-nari tertiup angin. Ya betul menari-nari, meliuk perlahan, berputar, melayang lagi lalu jatuh tepat di atas kepala kita. Dinda hanya tersenyum, sementara aku tertawa sambil menengadah, jangan-jangan ada lagi ranting yang iseng mengganggu. 

Memang cuma sebatang ranting, namun sanggup menghilangkan aneka lamunan dan membebaskan imaji menguap keangkasa. Dan ini masalahnya, dari mana tadi kita mulainya? Coba kamu ulangi lagi, aku lupa, aku terlalu konsen sama ranting-ranting itu. Dan genggaman tangan kita terlepas, aku membersihkan rambut Dinda dari ranting kecil nakal yang kerap mengganggu.

Glagep




glagep…..glagep…

Wajah lelaki terbungkus plastik kantung, tubuhnya mengelinjang.

glagep…..glagep…

Tangan dan kakinya terikat pada ranjang besi.

glagep…..glagep…

Di Kafe Itu



Di kafe itu,
bangku-bangku dingin menyerap cerita
tentang kamu, tentang aku.
Meja-meja beralas jejak celoteh
tentang kita, tentang mimpi kita.

Melodi melankolik menitik
bagai baris gerimis menerpa jendela
yang kini tertutup gorden kembang kuncup,
kelopaknya membekuk masa
yang terlewat mengatup
kedua bilah bibir kita, pun kedua bilik hati kita.

Bulan Biru



di wajahmu ada bulan
aku melihatnya di bangku taman
bulan biru lingkar pendar untaian
nada-nada lirih lantun perlahan
sebaris isak yang kau tahan

di wajahmu ada bulan purnama
bergemintang bulir air mata
sesekali jatuh lalu kuseka
luruh bersama sejumlah rasa
tentang lanjut cinta kita