Bandung Tak Pernah Murung


Aku tak suka menempuh jalan tol, selain panjang berkelak-kelok, warnanya begitu kusam dan membosankan. Meski bebas hambatan, bersebelahan dengan truk-truk raksasa membuat laju mobil terasa lamban. Musik hanya dapat membunuh sementara, lalu aku menatap serius speedometer sedan yang kerap merayap naik sepanjang perjalanan.

Aku tahu dari balik kacamata hitammu, matamu terpejam, menyembunyikan sebaris jenuh yang kau tahan. Lalu bahumu menyandar padaku, rebahan. Menambah pegal rasanya di badan. Kilometer demi kilometer hingga bertemu kemacetan. Memaksaku memacu roda jadi perlahan. "Bangun sayang, kita sudah sampai. Bandung sudah di depan." Aku menggeser bahu kiri, agar kamu tak tidur keterusan.

Kota Bandung dipeluk mendung. Kelabu menggelayut manja namun tak mampu menghadirkan murung. Udara sejuk bersahabat dengan tubuh. Pori-pori bahagia. Dan jalan Dago seperti biasa, ramai jaya, mendatangkan kendaraan berplat B, berdatangan riuh bergulung-gulung. Entah apa yang mereka cari di sana, aku tak habis bingung. Apa pergantian suasana, pergantian suhu udara, pergantian kesibukan sehari-hari yang tak tak pernah rampung?

Pacarku



Pacarku,
kau jauh, begitu jauh
di mana aku harus melepas sauh?
Dermaga menjadi titik
pada peta Zeus

Malam ini kubayang
Sayap-sayap membentang
tumbuh di punggungku bagai elang
Agar bebas dari cupid berpanah api
menyulut nyala sepi
pada perkamen mimpi tanpa tepi

Dua Sejoli




Di tengah malam, dua lelaki berjalan tukar cerita
sambil mencegat becak.
“Enak ya, kenyal sekali dadanya.”
“Ah, aku lebih suka pahanya. Sintal, putih-mulus pula.”
Beberapa langkah dari mereka, lampu-lampu KFC meredup
tanda restoran cepat saji itu tutup.

Dua becak lewat, namun dari kejauhan terdengar suara,
“Pak ini kembaliannyaaaa…
uangnya kelebihannn….”
Dua waria melambaikan beberapa lembar ribuan.
“Nanti, nanti saja. Pegang dulu. Kami mau antar bapak-bapak ini,”
kata dua Bang becak hampir bersamaan.

Dewi Jingga



Tiga tahun yang lalu, aku masih berupa titik
menetes dari awan kalimat, jatuh ke daun-daun buku.
"Bayi hutan buku," kata Ibuku ketika mengambil tubuhku serupa embun mungil.
Aku hanya bisa menangis, minta susu, membuat Ayah iri saat ranjangnya kupakai
telentang minum susu.

Waktu aku mulai bisa berjalan kecil-kecil, Ayah kerap mengajakku ke sebuah desa
tempat ia bekerja memetik kata. Kata-kata yang ia bawa pulang,
disulam Ibu menjadi cerita pendek.
Sementara aku belum bisa membaca, apalagi menulis
maka Ayahlah yang membacakan sulaman Ibu sebelum aku tidur.

Celana Dalam Merah



Larik-larik rindu berakhir penasaran. Aku lapar bertemu Desy.
Desy haus bertemu aku. Balada kantin cinta, dari mata turun ke mana-mana.
“Jadi ke Malang, Nit?”
“Besok sore sampai. Ketemu di mana?”
“Di mana saja, asal jangan di kuburan.”

Senyawa


oleh: Granito dan Je Zee


Dan buatku cinta itu berderai tanpa tepi, tanpa henti…

Kau bercerita tentang ikan-ikan salmon menempuh jauh, bertelur di air payau. Tentang kupu-kupu mencumbu kembang lalu berkejaran dengan kupu-kupu lainnya. Kaubilang ada bahasa, mungkin isyarat, tentang gelombang desibel yang hanya dimengerti “sang penerima”. Serupa jejak pulau dan benua: beberapa terpecah serupa mozaik, sebagian lainnya berdekapan hingga menjulang pegunungan. Kau mengatakan demikian, tentang apa yang kaupikir berjauhan, dapat saja bertemu, menjadi utuh menyeluruh, untuk ribuantahun kemudian.

“Jarak mencipta antara. Bagai bintang yang seolah berdekatan, namun nyatanya terpisah ratusan tahun cahaya. Tapi ini bukan tentang ilmu pasti. Ada ketidakpastian yang tak mampu dijawab otak kiri. Ada ketidakpastian yang pasti. Katakanlah tentang senyawa. Apa yang kau pikir tentang itu?”

Sekali lagi, ini bukan tentang kimia. Bukan tentang asam basa. Tak serumit molekul dan unsurnya. Kautahu, ini sederhana saja bagiku: aku, kamu, menjadi satu dan sejiwa. Aku meyakininya. Kau percaya? Lalu kau dan aku membentuk kita. Kita senyawa, tak peduli unsur asal ikatannya. Saling percaya, bahkan atas apa yang tak mudah diterima logika. Padahal, sebelumnya aku hanya setengah. Tercecer sisanya entah di mana. Lalu Tuhan memberi dirimu sebagai hadiah, mengisi yang seharusnya.

Ibu yang Menyulam Kenangan



Ada anak bermain gelembung senja
ditiupnya hingga menjadi gelembung hujan.
Bola-bola bening mimpi berterbangan
anak itu bersorak, “Hore… Ayah pulang.”

Ayahnya datang dari awan membawa oleh-oleh
“Ini pelangi buat kamu. Simpan ya,” katanya sambil
menyerahkan pita rambut. Ayahnya lalu kembali ke awan
naik gelembung hujan.

Nona Manis



Nona manis siapa pelukis wajahmu?
Ingin kutiru garis lengkung-lurusnya
Tiap-tiap milisenti rupamu kuterjemahkan dalam puisi
Oh angin, oh hujan, oh zaman, jangan koyak dia –aku belum selesai menulis


*****

Siluet Tubuh Anjani



  Cahaya mulai temaram, matahari sedikit lagi terbenam dari arah utara. Alde meletakan layang-layang yang baru saja ia terbangkan. Anjani mengusap kakinya yang penuh pasir pantai, setelah keduanya asik dengan kesukaanya masing-masing.

  “Laut itu mengerikan, Anjani.”
  “Masa sih, apanya yang buat kamu takut?”
  “Bukan takut kayak orang takut hantu lho….maksudku misterius.”
  “Buat aku sih, eksotik. Apalagi jelang Sunset begini.”
  “Cahayanya iya, tapi lautnya tetap mengerikan. Lihat ombaknya deh..”
  “Alde, justru ombaknya punya sensasi tersendiri. Lihat deh orang-orang malah seneng banget mandi buih ombak..”
  “Apa kamu gak bayangin, berapa dalamnya, ada apa di sana, dan seterusnya..”
  “Aku malah merasakan kedamaian di sini, De.”
  “Iya sebab Jakarta macet, di sini lenggang. Nggak kerja serius pula..”
  “Bukan itu..”
  “Trus..?”

Kuntum-kuntum Bening



: Kepadamu yang setia memandangi jubah kelabu tempat sembunyiku…

   Telah lama kuperhatikan dirimu yang senantiasa menanti hadirku. Pijar bola matamu saat melihat jubahku dari kejauhan adalah isyarat bagiku untuk segera menemuimu. Sekiranya kita mampu bertemu, tentu saja telah kubisikkan banyak kisah padamu. Namun kali ini biarkan sahabat sejatiku yang bercerita, berbisik pelan-pelan sambil mempermainkan anak-anak rambutmu. Ia banyak tahu tentangku, pun aku telah berbagi padanya.

   Mulaku dalam rupa barisan kristal dari putih buih samudra yang menapaki tangga kapas-kapas udara biru. Meluluh bersama gemuruh, menjadi selendang bening yang menyapa sejuk gunung. Sebagian menghening telaga cermin pendar cakra keemasan, sebagian berkelompok bernyanyi dengan bebatuan menggulung selaksa oksigen menggapai kehidupan sejumlah tebaran akar. Akupun tak jemu bercengkrama dengan setiap lapis kedalaman lalu meruah ke celah-celah litosfer. Seluruhnya aku menjelma menjadi setiap bentuk yang kusinggahi, kujelajahi, lalu menyatu pada lingkar rantai nitrogen memeluk setiap nafas mahluk yang ada.

   Kemudian pada tanah-tanah yang rekah serupa kelopak mawar kurebahkan diriku. Menyelusup, mencari sela di mana partikel-pertikelku bisa menyatu dan merekatkan kembali pelukan bebutir coklat yang berserak, lalu menguarkan aroma rindu yang mendamaikan hati. Aroma yang menjadi penanda orkestra para katak tak lama lagi dimulai.