Aku tak suka menempuh jalan tol, selain panjang berkelak-kelok, warnanya
begitu kusam dan membosankan. Meski bebas hambatan, bersebelahan dengan
truk-truk raksasa membuat laju mobil terasa lamban. Musik hanya dapat
membunuh sementara, lalu aku menatap serius speedometer sedan yang kerap merayap naik sepanjang perjalanan.
Aku tahu dari balik kacamata hitammu, matamu terpejam,
menyembunyikan sebaris jenuh yang kau tahan. Lalu bahumu menyandar
padaku, rebahan. Menambah pegal rasanya di badan. Kilometer demi
kilometer hingga bertemu kemacetan. Memaksaku memacu roda jadi perlahan.
"Bangun sayang, kita sudah sampai. Bandung sudah di depan." Aku
menggeser bahu kiri, agar kamu tak tidur keterusan.
Kota Bandung dipeluk mendung. Kelabu menggelayut manja namun tak mampu
menghadirkan murung. Udara sejuk bersahabat dengan tubuh. Pori-pori bahagia. Dan jalan Dago seperti biasa, ramai jaya,
mendatangkan kendaraan berplat B, berdatangan riuh
bergulung-gulung. Entah apa yang mereka cari di sana, aku tak habis
bingung. Apa pergantian suasana, pergantian suhu udara, pergantian
kesibukan sehari-hari yang tak tak pernah rampung?









