Kecupan di Penghujan



Kata orang...
Kata orang musim penghujan adalah musim kawin. Tapi saya merasa hati ini begitu dingin. Bukan sebab tiap malam udara kencang dihembus angin. Bukan pula karena saya menutup pintu hati rapat-rapat. Lantas kesendirian memeluk saya erat-erat. Melainkan seminggu yang lalu saya menerima surat. Isinya adalah, dia merasa hubungan asmara ini dalam keadaan darurat. Esok hari dan selanjutnya akan menjadi jalan yang berat. Dia berpikir untuk membebaskan saya. Dan apa yang dia pikirkan adalah sebuah upaya. Agar saya dapat memperoleh hal-hal yang lebih baik dari kehidupan saya. Juga kehidupan dia.
Saya dan dia, masuk di tengah usia dua puluhan. Umur yang cukup untuk membuat perhitungan antara cinta dan masa depan. Antara cita-cita dan keinginan membangun pelaminan. Tentu rumah tangga termasuk bagian dari cita-cita, dan cita-cita pula termasuk dalam daftar cinta. Apakah ada yang ingin hanya salah satunya? Atau siapakah ada yang dapat memisahkan keduanya? Saya tidak bisa. Buat saya keduanya seperti sepasang sayap yang dapat menerbangkan jika keduanya berdampingan. Saling mengepak di sisi kiri dan kanan menggapai angan-angan. Mungkin ini sebuah bentuk ideal pemikiran. Mungkin juga suara hati yang punya seribu keinginan. Seribu luapan dalam diri seorang perempuan. Seperti saya yang lima tahun lagi masuk usia tigapuluhan.
Takut terlambat. Jujur saja, saya takut semuanya akan telat. Seluruh jadwal kehidupan sudah saya susun terperinci dan padat. Sudah seharusnya setiap tindakan saya mengacu pada disiplin dengan taat. Meski hidup ini bukan matematika. Saya sadar itu, semakin panjang jalan semakin susah diterka. Kadang setiap bagiannya begitu jelas, kadang tak dapat dijamah dengan logika. Apakah kamu pernah mengalami sama halnya dengan kini yang saya rasakan? Tentang cinta dan kerinduan. Tentang seseorang yang namanya selalu di hat ini terpatri. Sudah tiga tahun, dua bulan dan sebelas hari. Dia bernama Ari.

 Dunia ini
Banyak yang bertanya, mengapa perempuan seperti saya jatuh cinta padanya? Wajah Ari terlalu biasa. Tidak seperti pacar-pacar sebelumnya. Kali ini kekasih saya tidak ganteng. Tidak banyak bicara, tidak mengumbar kata-kata melankoli. Tapi sungguh dia baik hati. Tiap pagi dia menjemput saya. Dulu mengantar saya ke kampus, kini ke kantor. Jam 5.30 pagi dia sudah meninggalkan kontrakannya. Tak peduli panas atau hujan sekalipun, dia selalu menjemput saya. Begitu juga kami pulang kantor bersama. Kadang kami mampir untuk makan malam atau belanja keperluan bulanan. Sesekali kami telat pulang apabila bisokop memutar filem baru kesukaan kami berdua. Saya dan Ari, mempunyai banyak kesamaan selera. Banyak memiliki kesamaan cara pandang akan sesuatu. Apakah itu masalah agama, politik atau masalah sosial. Ari enak untuk diajak berdiskusi. Pikirannya terbuka dan kupingnya sabar untuk mendengarkan. Matanya seperti selalu mengagumi kecantikan saya. Kerap berbinar-binar. Tak jarang di akhir pembicaraan, dia mengatakan, "Kamu cantik."
Kamu cantik. Itu kata-kata yang sering dikatakan sebagian orang kepada saya. Harusnya saya menjadi model. Mestinya saya ikut serta kontes ratu kecantikan. Minimal kaver majalah. Satu kotak kartu nama saya simpan. Isinya adalah nama-nama fotografer yang kadang melihat saya, entah di kampus, pertokoan, di restoran bahkan di pasar mini swalayan. Sesi pemotretan, itulah yang mereka tawarkan. Saya sadar apabila wajah saya direkam dengan kamera maka saya berkata kepada diri saya, "Kamu cantik."

Panggung sandiwara
Namun difoto atau tidak, Ari seringkali mengatakan hal tersebut. Tidak jarang pula dia menyebutnya tatkala saya baru bangun tidur, atau ketika tanpa make up sama sekali dengan selembar daster. Ari tetap mengatakan, Ari tetap menyebutkan, walau dengan berbisik sekalipun. Bisikannya tepat di ujung telinga saya, hingga sejumput udara ikut tertiup bersamanya. Mulutnya selalu tercium aroma tambakau dan itu mengingatkan dengan Ayah saya. Hanya saja tidak seperti Ayah saya, Ari selalu mematikan nyala rokoknya terlebih dahulu sebelum menemui saya. Dan Ari seringkali mencium saya tepat di telinga, membuat seluruh bulu-bulu halus ditengkuk berdiri. Seperti desau angin yang meniup daun-daun bambu.
Ari jarang bicara dengan nada keras, dia kerap berbisik. Demikian juga ketika kata "putus" disampaikan kepada saya. Berbisik atau dengan suara lantang, buat saya sama saja. Putus hubungan dengan Ari sama dengan memutarbalikkan dunia beserta isinya. Bahkan saya tidak menyangka bahwa kata itu akan pula saya terima di malam yang penghujan. Malam di mana sesungguhnya saya sangat kesepian. Dan pastinya penuh pengharapan, akan kalimat-kalimat yang menyejukan hati atau melambungkan pikiran. Kali ini tidak sesuai dengan harapan, Ari dengan perlahan tapi pasti, meniupkan udara yang paling saya takuti. PUTUS.

Peran manalagi?
Demikian hari berganti hari tanpa Ari. Meski dering telepon genggam tak henti menjeritkan nada, meski dibalik dering itu ada puluhan suara. Yang ingin menggantikan Ari, yang ingin menemani saya melewati waktu hingga di penghujungnya. Namun, mereka bukan Ari. Tapi, mereka belum tentu punya telinga yang sabar seperti Ari. Mereka pula bukan tipe yang setia menjemput saya di kala panas atau hujan badai sekalipun. Mereka adalah mereka seperti kebanyakan laki-laki, lebih memilih bercinta dengan tubuh saya ketimbang dengan hati saya. Apakah mereka pikir raga ini tidak punya jiwa? Apakah cukup bagi mereka segumpal daging yang mereka katakan cantik? Apakah mereka bicara memakai mulut atau dengan alat yang disembunyikan di dalam celana?
"Jangan merusak Chintya dengan kelakuanmu." Itu yang Ayah katakan terhadap Ari di suatu sore. Tiba-tiba seperti gunung es yang meleleh, mata ini mendadak basah tak dapat memandang apapun. Semuanya begitu kabur dan berkabut. Ayah telah dua kali membanjiri bantal saya dengan air mata. Pertama ketika bibirnya yang masih berasap rokok menciumi pipi saya, leher saya dan sebagian badan saya. Lalu Ayah memperlakukan saya sebagaimana istrinya, seperti Ayah menggumuli Ibu. Seperti Ayah tidak peduli dengan Ibu yang kelelahan dan memar-memar di badannya. Dahulu saya melihat, kemudian saya mengalami seperti Ibu.

Yang harus saya mainkan?
Kedua ketika Ayah mendatangi kontrakan saya lalu menemui Ari untuk mengatakan ketidak setujuannya. Kala itu Ari hanya tersenyum pada Ayah, dan tidak satu patah katapun keluar dari mulutnya. Ayah tetap bicara panjang lebar, dan seperti biasa telinga Ari terbuka dengan sabar. Dan Ari menghilang kemudian, tanpa kata-kata ataupun sebuah kecupan. Seminggu kemudian dia mendatangi saya lalu memutuskan untuk tidak bersama saya lagi. Hari itu dan selanjutnya.
Kata orang musim penghujan adalah musim kawin. Tapi saya merasa hati ini begitu dingin. Bukan sebab tiap malam udara kencang dihembus angin. Melainkan, cinta telah meninggalkan saya, dan saya kembali ke dalam kegelapan. Tidak ada lagi mesra kata-kata yang dibisikkan. Tidak ada lagi halus lembutnya sebuah ciuman. Tidak ada lagi kegalauan yang sirna setelah hangat pelukan. Walau, mungkin benar yang Ayah katakan. Ari telah membawa saya ke kehidupan pasangan lesbian. Kehidupan yang tidak seperti orang kebanyakan. Namun sungguh Ayah tak mengerti apa yang saya rasakan. Ayah hanya menebus dosa-dosanya dengan palu penghakiman. Palu yang seharusnya dia jatuhkan ke kepalanya sendiri. Keadilan yang semestinya diatasnamakan sebuah perbuatan. Perbuatan yang tak pernah Ayah sebutkan. Perbuatan yang lebih gila dibanding cinta dengan sesama perempuan.

 Kata orang dunia ini panggung sandiwara. Peran manalagi yang harus saya mainkan? []

*****
Granito


Catatan: Kalimat “Dunia ini panggung sandiwara” diambil dari lirik lagu Panggung Sandiwara ciptaan Achmad Albar.

4 komentar:

  1. semangat yaa.. :)
    & salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih
      salam kenal kembali :)

      Hapus
  2. mmh...cari artikel wat mbenerin hp yg blank n jadi white screen gara2 salah instal rom...pake key note "meraba-raba cwm" eh jd kebablasan mbaca ne cerita...keren euy..saya suka dengan gaya ceritanya..terima kasih..saya jadi sempat lupa sama hp saya yg sekarat..hehe..tulis lagi yang banyak om...biar saya betah mbacanya...salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe smoga HP-nya lekas sembuh

      makasih mbak Widhi

      Hapus